Melvin juga mengingatkan bahwa mencoba berinvestasi di terlalu banyak instrumen sekaligus, terutama ketika dana yang dimiliki masih terbatas, dapat membuat pengelolaan keuangan menjadi kurang terarah.
Uang yang seharusnya bisa dialokasikan secara terencana justru tersebar ke berbagai pilihan tanpa strategi yang jelas.
“Kalau misalnya sekarang di awal-awal langsung investasi sana, investasi sini, investasi sana, sini, sini, nanti yang ada apa? Yang ada uang lu kececer, kebanyakan gitu,” jelasnya.
Karena itu, menurut Melvin, prioritas anak muda yang baru memasuki dunia kerja sebaiknya adalah meningkatkan kemampuan untuk menghasilkan pendapatan.
Semakin baik keterampilan dan pengalaman yang dimiliki, kata dia, semakin besar pula peluang untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, meningkatkan penghasilan, atau mengembangkan sumber pendapatan lainnya.
“Karena pada awal-awalnya kalau menurut gue, kalau misalnya lu masih muda, masih awal banget memulai karier, mendingan lu gedein kemampuan lu untuk menghasilkan penghasilan lu,” ungkapnya.
Ketika penghasilan sudah lebih stabil dan memiliki ruang lebih besar untuk menyisihkan uang, investasi finansial dapat menjadi pilihan yang semakin menarik.
Melvin memberikan gambaran bahwa ketika seseorang mampu memperoleh penghasilan sekitar Rp20 juta hingga Rp30 juta per bulan atau lebih, kesempatan untuk mengalokasikan dana ke investasi bisa semakin terbuka.
“Uangnya udah, penghasilannya udah tertentu, let's say bisa sampai Rp20 juta atau Rp30 juta per bulan atau bahkan lebih. Nah, di situ investasi itu jadi lebih menarik,” pungkas Melvin.
Baca Juga: Cara Mengatur Keuangan Freelancer agar Tetap Aman Meski Penghasilan Tak Menentu