Banyak orang masih menganggap Herpes zoster atau cacar api sebagai penyakit kulit biasa yang hanya menimbulkan ruam. Padahal, di balik gejala yang tampak di permukaan, penyakit ini dapat memberikan dampak signifikan terhadap kualitas hidup penderitanya, mulai dari gangguan tidur hingga terganggunya aktivitas sehari-hari.

Pengalaman tersebut dirasakan langsung oleh Lionel, seorang pasien yang pernah mengalami cacar api. Ia mengungkapkan bahwa kondisi ini tidak hanya menyerang fisik, tetapi juga berdampak pada aspek emosional dan keseharian.

“Saya tidak bisa tidur dengan baik karena nyerinya terus-menerus. Bahkan untuk posisi tidur saja sulit karena luka ada di punggung. Itu benar-benar memengaruhi fisik, emosional, dan juga aktivitas saya sehari-hari,” ujarnya dalam sebuah acara Press Conference Shingles Action Week 2026 “Cegah Cacar Api Tanpa Tapi” bersama GSK, Kemenkes, PERKI dan Yayasan Jantung Indonesia di Wayang Bistro, pada Selasa (28/04/2026). 

Masa pemulihan yang tidak singkat juga membuatnya harus menunda berbagai aktivitas penting, termasuk momen kebersamaan dengan keluarga.

Baca Juga: Cacar Air Tengah Mewabah di Sekolah, Lindungi Anak dengan Vaksin Varisela, Segera!

Bukan Sekadar Ruam, tetapi Nyeri Berkepanjangan

Secara medis, cacar api memang ditandai dengan ruam dan lepuhan pada kulit. Namun, gejala yang sering kali lebih berat justru adalah nyeri yang menyertainya, bahkan dapat berlangsung lama meski ruam telah sembuh.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Vito A. Damay, menjelaskan bahwa nyeri akibat cacar api memiliki karakteristik khas dan bisa sangat mengganggu.

“Nyeri cacar api itu biasanya terasa seperti terbakar atau tertusuk, dan bisa berlangsung cukup lama. Bahkan, setelah ruamnya hilang, nyerinya masih bisa dirasakan berbulan-bulan,” jelasnya.

Baca Juga: Campak Jadi KLB, Dokter Anak Ungkap Dampak Kekosongan Vaksin dan Perbedaannya dengan Roseola

Kondisi ini kerap membuat penderita kesulitan beristirahat, yang pada akhirnya berdampak pada kondisi tubuh secara keseluruhan.

Berisiko Memengaruhi Kesehatan Jantung

Lebih dari sekadar gangguan kulit, cacar api juga berkaitan dengan kesehatan jantung, terutama pada kelompok berisiko. Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia, Ade Meidian Ambari, menjelaskan bahwa infeksi ini dapat memperburuk kondisi pasien dengan penyakit kronis.

“Nyeri yang hebat bisa menyebabkan tekanan darah dan denyut nadi meningkat. Hal ini tentu menjadi beban tambahan bagi pasien, terutama yang sudah memiliki penyakit jantung,” ujarnya.

Selain itu, infeksi cacar api juga dapat memicu peradangan dalam tubuh yang berpotensi meningkatkan risiko komplikasi serius seperti Stroke atau serangan jantung.

Baca Juga: Waspada Serangan Jantung Setelah Lebaran, Ini Penjelasan Dokter Spesialis

Mengganggu Aktivitas hingga Kesehatan Mental

Dampak cacar api tidak hanya dirasakan dari sisi medis, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Penderita dapat mengalami penurunan produktivitas, kesulitan beraktivitas, hingga gangguan mental akibat rasa nyeri dan ketidaknyamanan yang berkepanjangan.

Lionel mengaku harus membatasi interaksi sosial selama masa pemulihan.

“Saya harus mengisolasi diri dan tidak bisa bertemu keluarga untuk sementara. Itu bukan hanya soal sakit fisik, tapi juga ada rasa kehilangan momen yang tidak bisa tergantikan,” katanya.

Pencegahan Jadi Kunci Utama

Melihat dampak yang cukup besar, langkah pencegahan menjadi hal yang penting untuk diperhatikan. Menjaga gaya hidup sehat dan meningkatkan daya tahan tubuh menjadi upaya dasar yang perlu dilakukan.

Selain itu, vaksinasi juga menjadi salah satu cara efektif untuk menurunkan risiko terkena cacar api, terutama bagi kelompok rentan seperti usia di atas 50 tahun atau individu dengan penyakit penyerta.

“Pencegahan adalah hal yang paling penting. Dengan menjaga pola hidup sehat dan melakukan vaksinasi, kita bisa menurunkan risiko terkena cacar api dan komplikasinya,” jelas Ade Meidian Ambari.

Jangan Anggap Sepele

Cacar api mungkin terlihat ringan di awal, namun dampaknya dapat jauh lebih besar dari yang dibayangkan. Mulai dari nyeri berkepanjangan, gangguan aktivitas, hingga risiko komplikasi serius.

Karena itu, penting bagi masyarakat untuk lebih peka terhadap kondisi tubuh, mengenali gejala sejak dini, serta tidak ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga medis.

Pada dasarnya, menjaga kesehatan bukan hanya soal mengobati, tetapi juga bagaimana mencegah sebelum penyakit datang dan mengganggu kualitas hidup.