Growthmates, bagi banyak orang, gedung kantor Bluebird mungkin terlihat berbeda dari bangunan perkantoran pada umumnya. Alih-alih berbentuk kotak dengan garis-garis tegas, desain gedung tersebut justru memiliki lekukan yang menyerupai amoeba.

Ternyata, bentuk tersebut bukan sekadar pilihan estetika, melainkan menyimpan filosofi mendalam tentang bagaimana Bluebird menjalankan bisnisnya.

Presiden Komisaris Bluebird Group Holding, Noni Sri Ayati Purnomo, mengungkapkan bahwa inspirasi desain gedung berasal dari amoeba, organisme bersel tunggal yang dikenal mampu bergerak secara fleksibel dan cepat beradaptasi dengan lingkungannya.

Menurutnya, karakteristik tersebut menjadi simbol bagaimana Bluebird ingin terus bergerak secara lincah (agile), efisien, sekaligus mampu berkembang di tengah perubahan.

"Kalau nanti suatu saat lewat gedung Blue Bird ya, kalau dilihat itu bentuknya tuh bukan segi empat. Bentuknya tuh, saya dulu mendapatkan inspirasi dari amoeba sebenarnya. Jadi bagaimana kita bisa bergerak secara agil, se-efficient mungkin untuk ngambil makanan dan langsung mendigest makanan itu dan bisa berkembang dengan cepat," ungkap Noni, dalam sebuah video sebagaimana Olenka kutip dari laman Instagram DAAI TV, Rabu (22/7/2026).

Meski amoeba kerap memiliki konotasi negatif, Noni justru melihat banyak nilai positif yang dapat dipelajari. Baginya, inspirasi bisa datang dari mana saja, tidak hanya dari bangku sekolah atau buku pelajaran.

"Kalau kita amoeba itu kan biasa selalu konotasinya negatif dulu ya, tapi kalau kita ngambil traits positifnya kita bisa belajar banyak. Jadi sebenarnya kita belajar tuh bisa dari mana-mana gitu, enggak harus hanya dari textbook, enggak harus hanya dari sekolah," katanya.

Baca Juga: Cerita Noni Purnomo Generasi Ketiga Bluebird yang Butuh Waktu Dua Tahun Yakinkan Sang Ayah

Menurut Noni, dunia bisnis saat ini berubah sangat cepat akibat perkembangan teknologi, perubahan kebutuhan pelanggan, hingga dinamika pasar. Karena itu, perusahaan harus memiliki cara berpikir yang berbeda agar tetap relevan.

"Ternyata dengan perubahan teknologi, perubahan kebutuhan, perubahan semualah yang ada, itu kita ternyata harus melihat dengan instrumen yang berbeda, kita harus melihat dengan cara menalar yang berbeda," jelasnya.

Filosofi tersebut kemudian diterapkan dalam berbagai strategi bisnis Bluebird. Salah satunya melalui pengembangan model bisnis yang lebih adaptif.

Menurut Noni, Bluebird tetap mempertahankan kepemilikan aset kendaraan dan pengelolaan operasional, tetapi juga membuka peluang bagi para pengemudi untuk memiliki kendaraan yang mereka gunakan setelah periode tertentu.

"Yang kita lakukan misalnya approval business model kita kan itu, jadi tetap aset dan maintenance operational dimiliki oleh perusahaan. Tetapi kita juga membuka kemungkinan kepada para pengemudi untuk bisa memiliki kendaraannya setelah sekian waktu. Jadi kita ada adaptasi-adaptasi," ujar Noni.

Tidak hanya itu, lanjut Noni, semangat adaptasi juga diwujudkan melalui ekspansi perusahaan di berbagai daerah.

Kini, Bluebird menggandeng pengusaha lokal melalui program Kawan Blue Bird, sehingga pertumbuhan perusahaan dapat berjalan bersama mitra di masing-masing wilayah.

"Cara kita berkembang di daerah-daerah tertentu, sekarang kita berkembang dengan cara Kawan Blue Bird. Jadi kita memberikan kesempatan kepada pengusaha daerah untuk bisa bersama-sama dengan Blue Bird berkembang. Jadi kita beradaptasi mengenai cara implementasinya," tutup Noni.

Baca Juga: Mengenal Sosok Noni Purnomo, Generasi Ketiga Bluebird Group