Sementara itu, lanjut Prof. Ronny, susu menjadi salah satu sumber nutrisi yang berkaitan dengan pertumbuhan tulang. Kandungan kalsium, fosfor, dan protein di dalamnya mendukung pembentukan tulang serta proses pertumbuhan.
“Dari sisi konsumsi susu, Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan negara lain. Konsumsi susu per kapita di Indonesia hanya 5 liter/tahun, sedangkan konsumsi susu orang Belanda mencapai 100 liter/tahun per kapita. Sehingga, jika dibandingkan, tinggi badan orang Indonesia yang rata-rata 158 cm masih kalah jauh dari rata-rata tinggi badan orang Belanda yang mencapai 183 cm,” jelas Prof. Ronny.
Lebih lanjut, Prof. Ronny, juga mengingatkan bahwa pemenuhan protein dan zat gizi pada masa awal kehidupan menjadi perhatian penting karena periode tersebut merupakan fase krusial bagi perkembangan anak. Menurut Prof. Ronny, usia 0 hingga 5 tahun merupakan masa penting dalam pembentukan otak.
“Perlu dipahami bahwa golden age untuk membentuk otak yang berkualitas adalah usia 0 sampai dengan 5 tahun karena pada fase ini otak tumbuh sebesar 80%. Tanpa protein hewani yang cukup pada fase ini, sel otak tidak akan dapat terbentuk secara optimal,” jelasnya.
Dampak kekurangan asupan gizi yang berkualitas juga dapat berlangsung dalam jangka panjang. Prof. Ronny mengutip Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2023 yang mencatat prevalensi stunting sebesar 21,5 persen atau sekitar satu dari lima anak Indonesia berada dalam kategori pendek.
Menurut Prof. Ronny, persoalan gizi pada anak tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga dapat berpengaruh terhadap kemampuan belajar dan produktivitas ketika mereka tumbuh dewasa.
“Jadi, bonus demografi yang didengungkan akan menguntungkan Indonesia pada tahun 2020 mendatang, tidak akan berarti banyak jika produktivitas generasi saat ini rendah karena anemia, kurang fokus, serta tidak menjaga kesehatan tubuh dengan baik,” simpulnya.
Karena itu, Prof. Ronny menegasken bahwa susu, daging, dan telur sebaiknya tidak dipandang semata-mata sebagai makanan yang mengenyangkan. Pemenuhan protein hewani sejak masa pertumbuhan merupakan bagian dari upaya membangun kualitas sumber daya manusia dalam jangka panjang.
“Pengabaian konsumsi protein akan menurunkan daya saing SDM Indonesia. Protein hewani penting untuk membangun otak tajam, tubuh sehat, dan sumber daya manusia kompetitif di tingkat global,” tegasnya.
Baca Juga: Tak Cukup Lihat Klaim di Kemasan, Orang Tua Perlu Tahu Perjalanan Susu Formula Anak