Growthmates, masa depan Indonesia kerap dikaitkan dengan kualitas pendidikan, kemajuan teknologi, dan pertumbuhan ekonomi. Namun, sebelum berbicara mengenai kemampuan belajar, inovasi, maupun produktivitas, ada fondasi penting yang tidak bisa diabaikan, yakni kualitas asupan gizi sejak masa kanak-kanak.

Pakar Genetika Ekologi IPB University, Prof. Ronny Rachman Noor, menilai, protein hewani dari susu, daging, dan telur memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan tubuh sekaligus perkembangan otak anak.

Dikatakan Prof. Ronny, persoalan gizi tidak semata-mata mengenai apakah seorang anak sudah makan hingga kenyang, tetapi juga apakah makanan yang dikonsumsi mampu memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh.

“Tidak ada yang menyangkal bahwa nasi bisa membuat anak-anak kita kenyang dan berhenti menangis hari ini. Namun, dalam 20 tahun ke depan, susu, daging, dan telur akan membantu anak-anak kita menjadi lebih cerdas serta memiliki fisik yang sehat dan berkualitas,” kata Prof. Ronny, sebagaimana Olenka kutip dari laman IPB University, Kamis (1/10/2026).

Prof. Ronny menuturkan, rasa kenyang belum tentu mencerminkan kecukupan gizi. Konsumsi nasi yang berlimpah, misalnya, dapat membuat anak merasa kenyang, tetapi kebutuhan protein dan berbagai zat gizi penting lainnya tetap harus diperhatikan.

Dari sisi kebutuhan protein, tubuh manusia membutuhkan 20 jenis asam amino. Sebanyak sembilan di antaranya merupakan asam amino esensial yang tidak dapat diproduksi sendiri oleh tubuh sehingga harus diperoleh melalui makanan dan minuman.

“Dari segi kualitas gizi, tahu dan tempe merupakan sumber protein, tetapi tidak selengkap protein hewani dari susu, daging, dan telur. Produk ternak disebut sumber protein lengkap karena menyediakan semua asam amino esensial dalam satu hidangan,” tutur Prof. Ronny.

Dikatakan Prof. Ronny, telur menjadi salah satu sumber protein hewani yang memiliki kandungan nutrisi penting bagi tubuh. Satu butir telur mengandung sekitar 6 gram protein lengkap dan berbagai vitamin yang dibutuhkan tubuh.

Telur juga mengandung kolin yang berperan sebagai bahan pembentuk neurotransmiter serta lutein dan DHA yang berkaitan dengan perkembangan otak dan retina.

Tak hanya itu, daging juga memiliki peran penting, terutama karena kandungan zat besi yang relatif lebih mudah diserap tubuh. Prof. Ronny menyebut penyerapan zat besi dari daging dapat mencapai sekitar 25 persen, sedangkan dari sumber nabati seperti bayam sekitar 5 persen.

“Kekurangan zat besi akan menyebabkan anemia dan otot juga akan kekurangan oksigen. Data empiris menunjukkan bahwa 1 dari 3 remaja putri di Indonesia mengalami anemia, yang berdampak langsung pada produktivitas dan kualitas belajar,” jelas Prof. Ronny.

Selain zat besi, daging dan produk hewani juga menyediakan sejumlah zat gizi lain, termasuk zink dan vitamin B12. Zink berperan dalam pertumbuhan, sementara vitamin B12 dibutuhkan dalam berbagai proses penting, termasuk perkembangan sistem saraf dan otak.

Baca Juga: Bukan Sekadar Percaya Diri, Studi Ungkap Kunci Kesejahteraan Psikologis Anak, Apa Itu?

Sementara itu, lanjut Prof. Ronny, susu menjadi salah satu sumber nutrisi yang berkaitan dengan pertumbuhan tulang. Kandungan kalsium, fosfor, dan protein di dalamnya mendukung pembentukan tulang serta proses pertumbuhan.

“Dari sisi konsumsi susu, Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan negara lain. Konsumsi susu per kapita di Indonesia hanya 5 liter/tahun, sedangkan konsumsi susu orang Belanda mencapai 100 liter/tahun per kapita. Sehingga, jika dibandingkan, tinggi badan orang Indonesia yang rata-rata 158 cm masih kalah jauh dari rata-rata tinggi badan orang Belanda yang mencapai 183 cm,” jelas Prof. Ronny.

Lebih lanjut, Prof. Ronny, juga mengingatkan bahwa pemenuhan protein dan zat gizi pada masa awal kehidupan menjadi perhatian penting karena periode tersebut merupakan fase krusial bagi perkembangan anak. Menurut Prof. Ronny, usia 0 hingga 5 tahun merupakan masa penting dalam pembentukan otak.

“Perlu dipahami bahwa golden age untuk membentuk otak yang berkualitas adalah usia 0 sampai dengan 5 tahun karena pada fase ini otak tumbuh sebesar 80%. Tanpa protein hewani yang cukup pada fase ini, sel otak tidak akan dapat terbentuk secara optimal,” jelasnya.

Dampak kekurangan asupan gizi yang berkualitas juga dapat berlangsung dalam jangka panjang. Prof. Ronny mengutip Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2023 yang mencatat prevalensi stunting sebesar 21,5 persen atau sekitar satu dari lima anak Indonesia berada dalam kategori pendek.

Menurut Prof. Ronny, persoalan gizi pada anak tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga dapat berpengaruh terhadap kemampuan belajar dan produktivitas ketika mereka tumbuh dewasa.

“Jadi, bonus demografi yang didengungkan akan menguntungkan Indonesia pada tahun 2020 mendatang, tidak akan berarti banyak jika produktivitas generasi saat ini rendah karena anemia, kurang fokus, serta tidak menjaga kesehatan tubuh dengan baik,” simpulnya.

Karena itu, Prof. Ronny menegasken bahwa susu, daging, dan telur sebaiknya tidak dipandang semata-mata sebagai makanan yang mengenyangkan. Pemenuhan protein hewani sejak masa pertumbuhan merupakan bagian dari upaya membangun kualitas sumber daya manusia dalam jangka panjang.

“Pengabaian konsumsi protein akan menurunkan daya saing SDM Indonesia. Protein hewani penting untuk membangun otak tajam, tubuh sehat, dan sumber daya manusia kompetitif di tingkat global,” tegasnya.

Baca Juga: Tak Cukup Lihat Klaim di Kemasan, Orang Tua Perlu Tahu Perjalanan Susu Formula Anak