4. George Sand (Amantine Lucile Aurore Dupin)
Novelis asal Prancis, Amantine Lucile Aurore Dupin, memilih nama George Sand sebagai identitas sastranya pada abad ke-19.
Penggunaan nama pena laki-laki membantunya memasuki dunia sastra yang saat itu masih didominasi penulis pria. Melalui nama tersebut, Sand menerbitkan berbagai karya terkenal, termasuk Indiana dan Consuelo.
Namun, pengaruh George Sand tidak hanya terlihat melalui karya-karya sastranya. Ia juga dikenal sebagai sosok yang menentang sejumlah ekspektasi sosial terhadap perempuan pada masanya, terutama terkait kebebasan dan kemandirian.
Nama George Sand kemudian berkembang menjadi identitas sastra yang kuat. Pengalamannya menunjukkan bahwa nama samaran bukan sekadar cara menyembunyikan identitas, tetapi juga dapat menjadi sarana membangun kebebasan berekspresi dan posisi tersendiri dalam dunia sastra.
5. Andre Norton (Alice Mary Norton)
Alice Mary Norton menggunakan nama Andre Norton untuk membangun kariernya sebagai penulis fiksi ilmiah dan fantasi.
Pada masa itu, genre fiksi ilmiah dan fantasi masih sangat identik dengan penulis laki-laki. Karena itu, penerbitnya menyarankan penggunaan nama yang terdengar maskulin agar karya-karyanya lebih mudah diterima oleh pembaca genre tersebut.
Keputusan itu membuka jalan bagi Norton untuk menghasilkan berbagai karya berpengaruh, salah satunya seri The Witch World.
Melalui cerita-ceritanya, Norton membangun dunia imajinatif yang kaya dengan petualangan, fantasi, dan unsur fiksi ilmiah. Karya-karyanya kemudian mendapatkan tempat penting dalam perkembangan kedua genre tersebut.
Perjalanan Andre Norton membuktikan bahwa penulis perempuan juga memiliki kemampuan untuk menciptakan dunia fiksi yang luas dan memengaruhi perkembangan genre sastra yang selama ini didominasi laki-laki.
6. James Tiptree Jr. (Alice Bradley Sheldon)
Alice Bradley Sheldon menggunakan nama James Tiptree Jr. ketika menerbitkan berbagai karya fiksi ilmiah.
Berbeda dengan sejumlah penulis perempuan lain yang menggunakan nama laki-laki untuk menghindari diskriminasi penerbitan, Sheldon juga ingin memisahkan kehidupan pribadi dan profesionalnya dari aktivitas menulis.
Dengan identitas James Tiptree Jr., ia menghasilkan cerita-cerita yang kerap mengeksplorasi persoalan gender, kekuasaan, identitas, dan perilaku manusia.
Selama bertahun-tahun, banyak pembaca dan kritikus mengira James Tiptree Jr. merupakan seorang penulis laki-laki. Identitas asli Sheldon baru terungkap kepada publik pada 1977.
Pengungkapan tersebut memicu diskusi mengenai bagaimana asumsi gender seorang penulis dapat memengaruhi cara pembaca dan kritikus menilai sebuah karya.
Kisah Sheldon menjadi salah satu contoh paling menarik tentang hubungan antara identitas penulis, persepsi pembaca, dan penerimaan sebuah karya sastra.
7. Robert Galbraith (J. K. Rowling)
Nama J. K. Rowling tentu sudah tidak asing bagi pembaca dunia melalui kesuksesan seri Harry Potter. Namun, penulis asal Inggris tersebut juga menggunakan nama pena Robert Galbraith untuk menerbitkan novel-novel kriminal.
Melalui identitas baru itu, Rowling ingin membangun karier di genre berbeda tanpa terbebani ekspektasi besar yang melekat pada namanya sebagai penulis Harry Potter.
Novel kriminal pertamanya dengan nama Robert Galbraith, The Cuckoo's Calling, diterbitkan pada 2013. Identitas asli penulisnya kemudian terungkap pada tahun yang sama.
Berbeda dengan penulis perempuan pada abad ke-19 yang menggunakan nama laki-laki untuk menghadapi keterbatasan akses dan prasangka dalam industri penerbitan, Rowling memiliki alasan yang lebih berkaitan dengan kebebasan kreatif dan keinginan untuk mendapatkan penilaian secara mandiri.
Penggunaan nama Robert Galbraith memberinya kesempatan untuk memperkenalkan karya kriminalnya kepada pembaca tanpa harus langsung dikaitkan dengan kesuksesan dunia sihir Harry Potter.
Nah, Growthmates, perlu dipahami bahwa setiap penulis memiliki alasan berbeda dalam menggunakan nama pena. Ada yang ingin menghindari diskriminasi gender, menjaga privasi, mengeksplorasi genre baru, hingga melepaskan diri dari ekspektasi publik. Jadi, tidak semua nama samaran digunakan semata-mata untuk menyiasati ketidaksetaraan gender, tetapi juga sebagai ruang kebebasan dalam berkarya.
Baca Juga: 10 Buku Inspiratif tentang Perempuan yang Menulis Ulang Kisah Hidup Mereka Sendiri