Growthmates, ama yang tercantum pada sampul buku ternyata dapat memengaruhi cara pembaca memandang sebuah karya. Sepanjang sejarah, penulis perempuan kerap menghadapi tantangan dalam industri penerbitan yang lebih memberikan ruang dan pengakuan kepada penulis laki-laki.

Kondisi tersebut membuat sejumlah perempuan memilih menggunakan nama pena laki-laki agar karya mereka mendapat kesempatan yang lebih luas untuk dibaca dan dinilai berdasarkan kualitas tulisannya. Ada pula yang menggunakan nama samaran demi menjaga privasi, mengeksplorasi genre berbeda, atau membangun identitas baru sebagai penulis.

Meski memiliki alasan yang beragam, keputusan tersebut tidak menghalangi mereka untuk menghasilkan karya-karya besar yang dikenang lintas generasi. Bahkan, beberapa di antaranya berhasil mengguncang dunia sastra dan membuktikan bahwa kemampuan menulis tidak ditentukan oleh gender.

Dikutip dari Times of India, Senin (2/11/2026), berikut 7 penulis perempuan yang menggunakan nama pena dan berhasil meninggalkan pengaruh besar dalam dunia sastra.

1. George Eliot (Mary Ann Evans)

George Eliot merupakan nama pena yang digunakan Mary Ann Evans, novelis asal Inggris yang dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam sastra era Victoria.

Evans memilih menggunakan nama laki-laki agar karya-karyanya dipandang sebagai karya sastra serius, bukan sekadar tulisan perempuan yang pada masa itu kerap mendapatkan penilaian berbeda.

Melalui nama George Eliot, ia menerbitkan sejumlah novel terkenal, termasuk Middlemarch dan The Mill on the Floss. Karya-karyanya banyak mengeksplorasi hubungan antarmanusia, pilihan moral, konflik batin, serta tekanan sosial yang membentuk kehidupan seseorang.

Kedalaman karakter dan penggambaran kehidupan masyarakat dalam novel-novelnya membuat George Eliot mendapatkan pengakuan luas. Hingga kini, ia tetap dikenang sebagai salah satu novelis paling berpengaruh dalam sastra Inggris.

2. The Brontë sisters (Currer, Ellis, dan Acton Bell)

Tiga bersaudara Charlotte, Emily, dan Anne Brontë juga pernah menyembunyikan identitas perempuan mereka di balik nama pena laki-laki.

Ketiganya menggunakan nama Currer Bell, Ellis Bell, dan Acton Bell ketika pertama kali menerbitkan karya. Penggunaan nama tersebut menjadi salah satu cara untuk menghindari prasangka terhadap penulis perempuan pada abad ke-19.

Charlotte Brontë dikenal melalui novel Jane Eyre, Emily Brontë melalui Wuthering Heights, sementara Anne Brontë menulis Agnes Grey.

Ketiga karya tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam sejarah sastra dunia. Novel-novel mereka mengangkat persoalan cinta, kebebasan, ketimpangan sosial, hingga posisi perempuan dalam masyarakat.

Keberhasilan kakak beradik Brontë menunjukkan bahwa karya perempuan mampu melampaui batasan dan ekspektasi sosial yang berlaku pada zamannya.

3. Louisa May Alcott (A. M. Barnard)

Nama Louisa May Alcott sangat dikenal melalui novel Little Women, sebuah karya klasik yang mengisahkan kehidupan dan perjalanan empat bersaudara perempuan.

Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa Alcott juga menulis cerita-cerita sensasional menggunakan nama pena A. M. Barnard.

Berbeda dari cerita keluarga yang membuatnya terkenal, karya-karya dengan nama samaran tersebut mengeksplorasi tema kejahatan, balas dendam, gairah, serta karakter dengan persoalan moral yang kompleks.

Penggunaan nama A. M. Barnard memberinya kebebasan untuk mengeksplorasi genre dan tema yang berbeda tanpa harus mengaitkannya dengan citra penulis Little Women.

Selain memberikan ruang untuk bereksperimen, karya-karya tersebut juga menjadi sumber penghasilan bagi Alcott. Langkah ini memperlihatkan sisi lain kreativitas seorang penulis yang tidak ingin dibatasi oleh satu identitas sastra.

Baca Juga: 5 Penulis Perempuan yang 'Meramalkan' Krisis Dunia Melalui Buku Mereka