Terlepas dari berbagai polemik yang menerjangnya belakangan ini, sosok Jokowi harus diakui sebagai seorang figur yang punya pengaruh sangat besar dalam kancah politik nasional Indonesia.
Lazimnya politisi besar lahir dari keluarga bangsawan, konglomerat atau setidaknya datang dari kalangan atau keluarga politisi juga, namun kiprah politik Jokowi justru melintasi jalan yang tak biasa.
Baca Juga: Jokowi Ngaku Partainya Kaesang Bikin Ciut Banyak Pihak, Survei Buktikan PSI Terkubur di Papan Bawah!
Dari keluarga sederhana yang berprofesi hanya sebatas tukan kayu, Jokowi menjelma menjadi raksasa politik yang tersohor di seantero negeri. Pengaruh besarnya bahkan belum benar-benar hilang kini kendati sudah purna tugas menjadi Kepala Negara setelah satu dekade memerintah bangsa ini.
Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya mengatakan, Jokowi mendadak menjadi sangat besar dan dikenal luas oleh publik bukan karena sokongan kuat gerakan politik belakang layar. Ia tumbuh secara organik, dikenal karena kesederhanaan. Jokowi menabrak pakem yang sudah dipercaya puluhan tahun, bahwa polisi besar harus berasal dari keluarga tertentu saja.
"Kenapa Jokowi dulu menjadi sangat besar? Karena dia layak. Dia berasal dari kelas menengah biasa," ujar Yunarto dilansir Olenka.id Rabu (30/9/2026).
Ketika kebanyakan masyarakat Indonesia masih belum melek terhadap media sosial, Jokowi justru sudah berada satu langkah di depan, seluruh media sosial miliknya terutama yang populer saat itu facebook dan twitter (sekarang X) dimanfaatkan dengan sangat maksimal. Hasilnya nyata, citranya terpoles dengan sangat baik, masyarakat Indonesia mulai jatuh cinta padanya.
Tak hanya lewat media sosial, Jokowi juga membangun citranya lewat berbagai gebrakan ketika menjabat Wali Kota Solo, namanya melambung hingga level nasional yang membuat PDI-P kepincut padanya.
"Dia presiden Facebook pertama kalau lo ingat. Dan Twitter saat itu. Yang akhirnya memaksa PDIP wah gak bisa nih kader kita yang ini luar biasa," ujarnya.
PDI-P yang melihat potensi itu menjadi partai yang maju paling depan memburu tanda tangan Jokowi, kepribadian sederhana didukung citra politik yang merakyat dirasa sangat pas PDI-P yang kerap diasosiasikan sebagai partai wong cilik.
Jokowi lantas diboyong ke Jakarta dan terpilih menjadi Gubernur DKI. Namanya semakin melambung, citra sederhana dan pekerja keras yang ditampilkan lewat berbagai agenda blusukan di Jakarta mampu melambungkan namanya setinggi langit. Popularitas Jokowi ketika itu bahkan mengalahkan Megawati Soekarnoputri yang sedang membesut PDI-P.
"Bahkan mengalahkan ibu ketua umum. Itu kan orang-orang khalayak biasa," kata Yunarto.
Pola politik yang dibangun Jokowi lantas ditiru banyak politisi sebab dianggap jauh lebih efektif dan berbiaya murah, namun tidak semuanya merengkuh sukses besar seperti Jokowi.
"Sekarang yang jadi media darling ada Shirley. Ahok tetap punya segmennya sendiri. Pramono Anung mulai rame dibahas karena pertarungan dia kemarin urusan DBH," imbuhnya.
Lebih lanjut, Yunarto melihat semakin banyak figur politik yang menyadari pentingnya membangun kehadiran di media sosial.
"Yang gue lihat juga kayaknya orang-orang yang non-darah biru pun juga sekarang memiliki kepentingan yang besar untuk memiliki social media presence yang kuat gitu," katanya lagi.
Baca Juga: Politik Nasi Goreng Part III yang Tertunda: Kapan Mega-Prabowo Duduk Semeja Lagi?
Karena itu, Yunarto bilang bahwa investasi dalam tim media sosial dan produksi konten digital semakin menjadi bagian penting dari strategi komunikasi politik.
"Karena harus investasi tim sosmed gitu, jauh keliling di Youtube," tuntasnya.