Kinerja PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) terus menunjukkan sinyal pertumbuhan positif di bawah kepemimpinan Benjie Yap selaku Presiden Direktur. Hal tersebut tercermin dari pertumbuhan laba Unilever Indonesia yang mampu tumbuh selama lima kuartal berturut-turut.
Pada periode kuartal ketiga tahun 2026, Unilever Indonesia membukukan kenaikan penjualan sebesar 7,4% menjadi Rp8,9 triliun. Angka tersebut selisih tipis dengan penjualan sepanjang sembilan bulan pertama 2026 yang meningkat 7,2% menjadi Rp25,8 triliun.
Sementara itu, laba bersih dari operasi berkelanjutan tumbuh 10,6%, melampaui pertumbuhan penjualan meskipun tekanan inflasi masih berlanjut. Kinerja tersebut ditopang oleh pertumbuhan yang merata di berbagai unit bisnis dan saluran penjualan, peningkatan daya saing, eksekusi yang semakin kuat, serta investasi yang disiplin pada strategi prioritas Perseroan.
“Kinerja kuartal ketiga kami menunjukkan kemajuan berkelanjutan dalam membangun bisnis yang lebih kuat. Kami mencatat pertumbuhan volume selama lima kuartal berturut-turut, dengan pertumbuhan laba yang melampaui pertumbuhan penjualan meskipun tekanan inflasi masih berlanjut. Pertumbuhan ini terjadi secara merata di seluruh portofolio kami dan mencerminkan peningkatan daya saing, eksekusi yang semakin kuat, serta penguatan merek-merek kami," tegas Benjie Yap, dikutip pada Senin (26/10/2026).
Di luar capaian kuartal ini, lanjutnya, Unilever Indonesia terus memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang melalui pengembangan lebih banyak merek yang ’SASSY', portofolio yang semakin premium, serta penguatan bisnis digital.
"Didukung oleh eksekusi yang semakin kuat, transformasi biaya yang struktural, dan budaya kerja yang unggul, berbagai upaya tersebut tidak hanya meningkatkan kualitas pertumbuhan kami, tetapi juga memperkuat kemampuan Perseroan untuk mempertahankan pertumbuhan secara berkelanjutan," tambah Benjie Yap.
Baca Juga: Profil Benjie Yap, President Director Unilever Indonesia
Setelah berhasil mendorong pertumbuhan bisnis pada 2025, Unilever kini berfokus pada peningkatan kualitas, ketangguhan, dan keberlanjutan pertumbuhan tersebut, sekaligus menciptakan bisnis yang unggul di pasar. Pertumbuhan penjualan sepanjang tahun berjalan meningkat menjadi 7,2% dibandingkan 4,3% pada 2025, mencerminkan kemajuan yang telah melampaui fase pemulihan dan memasuki babak berikutnya dalam transformasi Perseroan.
Setidaknya, Unilever Indonesia menjalankan strategi perusahaan dengan berpusat pada tiga prioritas utama sebagai berikut.
1. Lebih Banyak Merek yang “SASSY”
Unilever Indonesia memperkuat merek-mereknya melalui kerangka S.A.S.S.Y., yang memadukan sains (Science), estetika (Aesthetics), pengalaman sensoris (Sensorial Experiences), advokasi konsumen (Consumer Advocacy atau “Said by Others”), serta relevansi dengan generasi muda (Youthful Relevance). Merek-merek seperti Sunsilk dan Rinso menunjukkan bagaimana keunggulan produk, daya tarik merek, dan relevansi budaya yang lebih kuat dapat meningkatkan daya saing serta mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan.
2. Portofolio yang Lebih Premium
Segmen premium kini mencakup sekitar 32% dari total pasar dan tumbuh hampir dua kali lebih cepat dibandingkan segmen utama (mainstream). Lebih dari 70% bisnis premium Unilever mencatat kinerja yang unggul di pasarnya, menjadikan strategi premiumisasi sebagai salah satu pendorong utama pertumbuhan yang berkualitas lebih tinggi dan tangguh.
Bisnis Digital yang Lebih Besar
Bisnis digital menjadi salah satu pendorong pertumbuhan tercepat di kategori FMCG. Unilever terus membangun kapabilitas baru dalam menciptakan permintaan melalui pemasaran yang berfokus pada media sosial, aktivitas live streaming, dan kemitraan afiliasi untuk mempercepat pertumbuhan sekaligus memperkuat hubungan dengan konsumen di berbagai kanal digital.
Upaya-upaya ini didukung oleh eksekusi yang semakin kuat di lapangan, peningkatan produktivitas yang struktural, serta budaya kerja yang unggul di seluruh organisasi. Sepanjang tahun, Perseroan memperluas cakupan distribusi secara langsung, memperkaya portofolio di pasar, serta terus meningkatkan layanan pelanggan dan kualitas eksekusi di toko. Transformasi berkelanjutan yang dilakukan dalam pengadaan, manufaktur, dan model operasional juga meningkatkan produktivitas, memperkuat daya saing, serta membuka ruang investasi yang lebih besar untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang.
Benjie Yap mengatakan, ke depan Unilever Indonesia akan tetap berfokus pada pertumbuhan yang didorong oleh volume, dengan peningkatan margin yang terukur pada 2026. Meskipun tekanan inflasi pada komoditas yang berkaitan dengan kawasan Timur Tengah diperkirakan masih akan berlanjut hingga memasuki 2027, Unilever akan terus meresponnya melalui kombinasi penyesuaian harga yang tepat, efisiensi, dan investasi yang disiplin.
"Prioritas kami adalah menjaga daya saing, memastikan produk tetap terjangkau bagi konsumen, serta mendukung pertumbuhan bisnis yang sehat dalam jangka panjang. Kami optimistis dengan kemajuan yang terus kami capai," tegasnya lagi.
Optimisme tersebut didukung oleh merek, kapabilitas, dan fondasi bisnis yang lebih kuat dibandingkan satu tahun yang lalu. Pihaknya akan terus berfokus pada penguatan portofolio, peningkatan daya saing, serta penciptaan nilai berkelanjutan bagi para pemegang saham dalam jangka panjang.
"Sebagai bagian dari upaya untuk memperkuat bisnis, kami akan menyampaikan informasi lebih lanjut mengenai bisnis Foods sebelum akhir tahun,” tutup Benjie.