Memilih alat kontrasepsi setelah menjalani pengobatan kanker payudara bukan perkara sepele. Penyintas perlu mempertimbangkan kondisi kesehatan, riwayat penyakit, hingga jenis kontrasepsi yang digunakan agar pilihan tersebut sesuai dengan kebutuhan tubuhnya.

Penggunaan kontrasepsi hormonal, misalnya, memerlukan perhatian khusus, terutama bagi penyintas kanker payudara yang sensitif terhadap hormon. Karena itu, pemilihan alat kontrasepsi sebaiknya tidak dilakukan sembarangan atau hanya berdasarkan pengalaman orang lain.

Melalui momentum Pink Month, Sahabat Andalan mengajak perempuan, termasuk penyintas kanker payudara, untuk lebih cermat memahami pilihan kontrasepsi dan berkonsultasi dengan tenaga medis sebelum menentukan metode yang akan digunakan.

Apakah Penyintas Kanker Payudara Boleh Menggunakan KB?

Penyintas kanker payudara tetap perlu merencanakan penggunaan kontrasepsi sesuai kondisi kesehatannya. Namun, tidak semua jenis KB memiliki pertimbangan yang sama.

Medical Advisor DKT Indonesia, dr. Thesa Ananda Prima, menjelaskan bahwa pemilihan kontrasepsi perlu mempertimbangkan riwayat kanker, pengobatan yang sedang atau telah dijalani, serta kondisi kesehatan masing-masing perempuan.

Kontrasepsi hormonal perlu mendapat perhatian khusus karena hormon tertentu dapat menjadi pertimbangan penting pada kanker payudara yang sensitif terhadap hormon. Oleh sebab itu, penyintas sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui metode yang paling sesuai.

“Pemilihan kontrasepsi bagi penyintas kanker payudara perlu disesuaikan dengan riwayat penyakit, pengobatan, dan kondisi kesehatan masing-masing,” ujar dr. Thesa.

Baca Juga: Orang Tua Punya Riwayat Kanker, Apakah Anak Berisiko Mengalaminya?

IUD Tembaga Bisa Menjadi Salah Satu Pilihan

Salah satu metode yang dapat didiskusikan bersama tenaga medis adalah IUD tembaga. Berbeda dari kontrasepsi hormonal, IUD tembaga bekerja tanpa melepaskan hormon untuk mencegah kehamilan.

Metode ini memiliki efektivitas lebih dari 99 persen dan dapat digunakan dalam jangka panjang, sekitar 5–10 tahun bergantung pada jenis produk. IUD tembaga juga bersifat reversibel, sehingga kesuburan dapat kembali setelah alat dilepas.

Panduan Society of Family Planning pada 2025 turut menempatkan kontrasepsi nonhormonal sebagai pilihan utama yang perlu dipertimbangkan bagi perempuan dengan riwayat kanker payudara.

Meski demikian, IUD tembaga tidak otomatis menjadi pilihan yang tepat bagi setiap penyintas. Kondisi kesehatan dan kebutuhan masing-masing perempuan tetap perlu dinilai oleh tenaga medis sebelum menggunakan metode tersebut.

Baca Juga: Memahami Jenis Kanker Payudara Sejak Dini, Jangan Diabaikan Ya!

Jangan Menentukan Pilihan KB Tanpa Konsultasi

Kebutuhan kontrasepsi setiap perempuan dapat berbeda, termasuk bagi mereka yang memiliki riwayat kanker payudara. Karena itu, penting untuk menyampaikan riwayat penyakit dan pengobatan kepada dokter atau bidan sebelum memilih alat kontrasepsi.

Untuk membantu perempuan memperoleh informasi yang sesuai, Sahabat Andalan menyediakan layanan konsultasi gratis bersama dokter dan bidan melalui WhatsApp Halo DKT di nomor 08111-326-459. Layanan ini juga dapat membantu pengguna menemukan bidan terdekat.

Edukasi mengenai pilihan kontrasepsi bagi penyintas kanker payudara juga dapat disimak melalui video Sahabat Andalan di YouTube.

Memahami pilihan KB sejak awal dapat membantu perempuan mengambil keputusan yang lebih tepat. Bagi penyintas kanker payudara, langkah terpenting adalah memilih metode kontrasepsi berdasarkan kondisi kesehatan dan rekomendasi tenaga medis, bukan semata-mata karena metode tersebut cocok bagi orang lain.