Growthmates, pernah nggak sih merasa tertinggal setelah melihat kisah orang-orang sukses yang konon berhasil tanpa lulus kuliah? Di media sosial, cerita tentang pendiri perusahaan besar atau entrepreneur yang drop out seringkali dijadikan anggapan bahwa pendidikan formal bukan penentu kesuksesan.

Padahal, tidak semua orang memiliki titik awal, kemampuan, maupun kesempatan yang sama. Ingat! Jalan menuju sukses setiap orang itu berbeda-beda. Terlalu sering membandingkan perjalanan hidup dengan orang-orang yang dianggap "luar biasa" justru bisa membuat kita lupa melihat potensi yang dimiliki diri sendiri.

Hal tersebut turut dibahas oleh Eileen Rachman, yang telah berkecimpung lebih dari empat dekade di bidang pengembangan karakter manusia. Menurutnya, kisah sukses para genius memang menginspirasi, tetapi bukan berarti harus dijadikan patokan oleh semua orang.

"Ada masa-masa pada tahun 60-an, di mana banyak city bankers tidak mengenyam pendidikan formal, tetapi kemudian masuk ke dunia perbankan dan mereka bisa sukses," ujar Eileen Rachman, seperti dikutip Sabtu (1/8/2026).

Namun, Eileen mengingatkan bahwa ada satu hal penting yang sering terlupakan ketika melihat kisah-kisah tersebut. Menurutnya, banyak orang hanya melihat hasil akhirnya, tanpa memahami kemampuan maupun proses yang dijalani para tokoh tersebut. Setiap orang memiliki kapasitas, kekuatan, dan jalan hidup yang berbeda.

"Saya hanya ber-IQ average, jadi lebih baik kita tidak melihat para genius itu sebagai model, karena mereka tentunya mempunyai kelebihan-kelebihan tertentu sehingga bisa meniadakan pendidikan formal,” tukasnya. 

Pada akhirnya, kesuksesan bukan hanya soal mengikuti jejak orang lain. Kisah para genius memang bisa menjadi inspirasi, tetapi bukan berarti harus ditiru mentah-mentah.

Alih-alih terus membandingkan diri dengan mereka yang memiliki kondisi berbeda, lebih penting untuk mengenali kemampuan diri, memanfaatkan kesempatan yang dimiliki, dan terus mengembangkan diri melalui proses belajar yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Sebab, setiap orang memiliki garis “start” yang berbeda. Perlu juga diingat, yang menentukan bukan seberapa mirip perjalanan kita dengan orang lain, melainkan seberapa konsisten kita bertumbuh dengan potensi yang dimiliki.