Analisa juga meluruskan anggapan bahwa perempuan memiliki kemampuan multitasking yang lebih baik secara biologis.
Menurutnya, berdasarkan cara kerja otak, laki-laki dan perempuan pada dasarnya memiliki kemampuan yang sama dalam berpindah dari satu tugas ke tugas lainnya.
Yang sering disalahartikan adalah anggapan bahwa multitasking berarti mengerjakan beberapa pekerjaan secara bersamaan dalam waktu yang sama.
"Kalau cara kerja otak sebenarnya sama saja. Laki-laki juga bisa multitasking. Tapi multitasking yang ternyata setelah dipelajari itu bukan dalam satu waktu bersamaan. Kita bisa menyelesaikan satu hal, kemudian belok ke yang lain, lalu ke tugas berikutnya," kata Analisa.
Lebih jauh, Analisa mengingatkan bahwa kesalahpahaman mengenai konsep multitasking justru dapat berdampak buruk, terutama bagi perempuan.
Karena terdorong oleh stereotip untuk mampu melakukan semuanya sekaligus, kata dia, banyak perempuan akhirnya memaksakan diri mengerjakan berbagai tugas secara bersamaan.
Menurut Analisa, kebiasaan inilah yang berpotensi memicu kelelahan fisik dan mental hingga berujung pada burnout.
"Yang jadi salah kaprah justru ini yang bahaya. Ketika perempuan akhirnya karena stereotyping itu memaksa dirinya untuk dalam satu waktu bersamaan melakukan dua hal. Nah, itu yang jadi burnout sebenarnya," pungkasnya.
Baca Juga: Pentingnya Penampilan bagi Wanita Karier Menurut Analisa Widyaningrum