Universitas Hasanuddin (Unhas) bekerja sama dengan ESQ Corp menggelar Transformative Leadership Program dengan tema "Menemukan Keseimbangan Intelektual, Spiritual, dan Emosional dalam Kepemimpinan", yang berlangsung di Ballroom Unhas Hotel & Convention, Senin (24/2) lalu.

Rektor Unhas, Prof Jamaluddin Jompa (JJ) menyampaikan apresiasi atas kolaborasi Unhas dan ESQ Corp dalam menghadirkan program pengembangan kepemimpinan yang berbasis nilai-nilai spiritual, intelektual, dan emosional.

Baca Juga: Jalan Terjal Menyongsong Indonesia Emas

Baca Juga: Menag Nasaruddin Apresiasi Tool AI Talent DNA ESQ untuk 13 Ribu Penghulu Se-Indonesia

Baca Juga: Untuk Perkuat Ekosistem Halal, Kepala BPJPH Hadiri Peluncuran ESQ Halal Center

"Terima kasih Bapak Ary Ginanjar yang luar biasa. Teman-teman semua sangat puas, semoga momen-momen seperti ini akan kami terus pelihara krn akan menjadi modal utama dalam pengembangan Unhas dan keluarga besarnya," ungkapnya. 

Kata Prof JJ, kedepan Unhas akan terus memperkuat kerja sama dengan ESQ Corp sebagai Korporasi terdepan dalam menggerakkan masyarakat menuju peradaban emas.

"Mohon terus kami dibantu ya Pak Ary, kerja sama ke depan Insya Allah kita akan perkuat lagi dalam berbagai bentuk. Semoga kita semua senantiasa sehat dan sukses dalam lindungan Allah SWT," tutur Prof JJ.

Sementara itu, Pendiri ESQ Corp Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian dihadapan ratusan pimpinan dan civitas akademik Unhas mengatakan agar Unhas menjadi yang terbaik, maka diperlukan socio-emotional harus di level 4 (intra-independent, fokus kepada prinsip dan nilai-nilai yang diyakini) atau level 5 (inter-dependent, fokus kepada kontribusi untuk lingkungan sosial).

"Perlu memegang teguh values Unhas (Integrity, Innovation, Catalytic, Wisdom). Kemudian growth mindset," jelas Ary Ginanjar, dalam keterangannya, Jumat (28/2/2025).

Ary Ginanjar Melanjutkan, jika terdapat masalah, harus direspon dengan solution mode bukan problem mode. Fokus kepada solusi bukan masalah. Negara-negara maju, masyarakatnya berpikir growth mindset.

"Kemudian agar terus juara, kita perlu menemukan talenta-talenta yang tepat sesuai passionnya. Tidak ada lagi satu pun mahasiswa yang dianggap kurang pintar. Yang ada kita salah membaca orang di depan kita. Dengan cara cepat, tepat dan hemat biaya, untuk menemukannya kita butuh AI, kami namakan AI Talent Management," tandasnya.