Disutradarai oleh sineas Dimas Djayadiningrat, film ini dibangun dengan pendekatan naratif yang sederhana namun emosional. Bagi Ario Bayu, narasi adalah elemen utama yang membuat cerita terasa hidup dan jujur.
“Sebagai aktor, narasi itu poros utama dalam menciptakan sebuah cerita. Bahkan saat kami menontonnya di ruang post-produksi, saya dan Mas Dimas sama-sama tersentuh,” ungkap Ario.
Ia pun berharap, emosi yang dirasakan tim produksi dapat sampai kepada penonton.
“Harapannya, audiens juga bisa merasakan resonansi dari cerita yang ingin kami sampaikan,” katanya.
Secara personal, ada satu adegan dalam film yang sangat dekat dengan pengalaman hidup Ario Bayu. Adegan tersebut menggambarkan kebersamaan dan gotong royong para nelayan, yakni nilai yang menurutnya sangat lekat dengan keseharian masyarakat Indonesia.
“Di usia 26 tahun, saya pernah terjun ke industri perikanan. Setiap jam 4 pagi saya sudah ada di pelelangan ikan, menunggu hasil tangkapan sampai jam 7 pagi,” kenang Ario.
Pengalaman itu membuatnya merasa terhubung dengan salah satu adegan di film, ketika seorang nelayan harus mendapatkan tuna seberat empat kilogram.
“Yang saya lihat waktu itu sama seperti yang kami gambarkan di film ini, semua saling membantu, gotong royong, tidak bertengkar. Apa yang didapat dari alam dibagi secara adil,” jelasnya.
Menurut Ario, realisme inilah yang ingin dihadirkan dalam film pendek ‘Sepenuhnya Indonesia’.
“Itu yang membuat saya merasa, ‘Wow, ini nyata.’ Dan saya harap realisme ini juga bisa mencerminkan nilai-nilai pilihan yang dijalani McDonald’s Indonesia,” pungkasnya.
Baca Juga: 35 Tahun Hadir di Indonesia, Ini Milestone Perjalanan McDonald’s