Secara umum, pada usia 9–12 bulan, bayi mulai merespons nama dan memahami kata-kata sederhana. Memasuki usia 12–18 bulan, anak mulai dapat mengikuti instruksi sederhana dengan bantuan gestur. Kemampuan tersebut kemudian berkembang hingga anak mulai memahami instruksi tanpa gestur pada usia 18–24 bulan.
Pada rentang usia 2–3 tahun, anak mulai belajar mengikuti instruksi dua langkah. Sementara itu, pada usia 3–4 tahun, anak dapat mulai mengikuti arahan tiga langkah dan instruksi yang lebih kompleks. Meski demikian, rentang usia tersebut merupakan gambaran umum, bukan patokan mutlak, karena perkembangan setiap anak dapat berbeda.
“Ketika anak belum dapat mengikuti instruksi, kita perlu melihat apakah arahan yang diberikan sudah sesuai dengan kemampuannya, apakah anak memahami kata-kata yang digunakan, dan apakah ia siap memproses informasi tersebut,” jelas Erna.
Karena itu, orang tua dapat mencoba menyesuaikan cara berkomunikasi dengan kebutuhan anak. Berikan instruksi secara singkat dan jelas, sampaikan satu arahan dalam satu waktu, serta gunakan gestur atau contoh langsung jika diperlukan.
Orang tua juga dapat memberikan jeda agar anak memiliki waktu untuk memproses informasi sebelum instruksi diulang. Lingkungan yang lebih tenang dapat membantu anak yang mudah terdistraksi oleh suara, gerakan, atau rangsangan di sekitarnya.
Selain mencoba strategi tersebut, orang tua perlu memperhatikan pola kesulitan yang dialami anak. Misalnya, apakah anak hanya kesulitan mengikuti instruksi dalam situasi tertentu, apakah arahan yang diberikan terlalu panjang, atau apakah kesulitan juga muncul dalam aktivitas sehari-hari.
Orang tua sebaiknya mempertimbangkan konsultasi dengan tenaga profesional apabila anak terus mengalami kesulitan memahami instruksi yang sesuai dengan tahap perkembangannya, jarang merespons ketika dipanggil, atau kehilangan kemampuan yang sebelumnya sudah dikuasai.
Tanda-tanda tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya gangguan perkembangan. Namun, jika terjadi berulang, menetap, atau mengganggu aktivitas sehari-hari, evaluasi profesional dapat membantu mengidentifikasi kebutuhan anak. Jika anak kehilangan kemampuan yang sebelumnya dikuasai, orang tua sebaiknya segera mencari evaluasi medis dan perkembangan.
“Orang tua tidak perlu langsung menyimpulkan bahwa anak mengalami gangguan perkembangan karena sulit mengikuti instruksi. Namun, jika kesulitan terus berulang atau anak kehilangan kemampuan yang sebelumnya dikuasai, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga profesional agar anak mendapatkan dukungan yang sesuai,” pungkas Erna.
Baca Juga: Jangan Salah Respons, Ini 5 Perbedaan Tantrum, Meltdown, dan Overload pada Anak