Anak yang tidak bisa diam, mudah terdistraksi, atau kerap bertindak tanpa berpikir sering kali membuat orang tua bertanya-tanya apakah perilaku tersebut merupakan tanda Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD).
Meski beberapa perilaku itu dapat berkaitan dengan ADHD, anak yang aktif belum tentu mengalami gangguan perkembangan saraf tersebut.
Momentum ADHD Awareness Month atau Bulan Kesadaran ADHD yang diperingati setiap Oktober menjadi pengingat bagi orang tua untuk memahami karakteristik dan kebutuhan anak secara lebih menyeluruh.
Pengamatan yang tepat diperlukan agar orang tua tidak terburu-buru memberikan label maupun melakukan diagnosis mandiri hanya berdasarkan perilaku yang terlihat sehari-hari.
Psikolog Atelier of Minds, Diah Cahyaningrum, S.Psi., M.Psi., Psikolog, menegaskan bahwa mengenali indikasi awal ADHD perlu diikuti pemahaman terhadap pola perilaku anak, dampaknya terhadap aktivitas sehari-hari, serta evaluasi dari tenaga profesional yang kompeten.
“Kekhawatiran orang tua ketika menerima laporan dari sekolah atau melihat anak tidak bisa diam di rumah adalah hal yang sangat wajar. Namun, melihat indikasi awal bukan berarti anak pasti mengidap ADHD. Fokus utama orang tua adalah mengamati dan memahami pola perilaku anak, bukan terburu-buru memberikan label. ADHD memiliki kriteria diagnostik yang terukur dan membutuhkan evaluasi menyeluruh dari profesional yang kompeten,” ungkap Diah, dikutip dari keterangan resminya, Senin (12/10/2026).
Diah melanjutkan, ADHD merupakan kondisi yang ditandai dengan pola gejala kurangnya perhatian atau inatensi, hiperaktivitas, dan impulsivitas yang menetap serta dapat mengganggu fungsi sehari-hari maupun perkembangan anak. Gejalanya tidak selalu sama pada setiap anak sehingga penting bagi orang tua untuk memahami karakteristiknya secara lebih mendalam.
Pada aspek inatensi, anak dapat mengalami kesulitan mempertahankan fokus, mudah teralihkan, tidak menuntaskan instruksi, hingga kesulitan mengatur tugas dan barang-barang miliknya. Kondisi ini terkadang terlihat ketika anak kesulitan menyelesaikan pekerjaan sekolah atau sering lupa membawa perlengkapan yang dibutuhkan.
Sementara itu, hiperaktivitas dapat terlihat dari aktivitas gerak yang berlebihan, seperti terus bergerak, gelisah, mengetuk-ngetukkan tangan atau kaki, maupun berbicara secara berlebihan.
“Adapun, impulsivitas berkaitan dengan kecenderungan bertindak sebelum mempertimbangkan konsekuensinya, misalnya menyela pembicaraan atau melakukan tindakan berisiko tanpa memperhatikan situasi,” tutur Diah.
Baca Juga: 3 Langkah Nyata Ciptakan Kelas yang Nyaman untuk Anak Autisme & ADHD