Ketua DPP PDI Perjuangan (PDI-P) Komarudin Watubun mengatakan ritual injak kepala kerbau yang dilakukan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) saat menerima gelar Baginda Pemuka Bangsa ketika blusukan ke Lampung akhir pekan lalu tak ada hubungannya dengan PDI-P.
Dia mengatakan hal ini untuk merespons beragam tanggapan masyarakat yang mengaitkan ritual tersebut dengan partai politik besutan Megawati Soekarnoputri itu. Jokowi disebut sedang menghina bekas partainya tersebut, maklum saja kepala kerbau identik dengan lambang PDI-P.
Baca Juga: Pesan di Balik Ritual Injak Kepala Kerbau: Jokowi Siap Ganyang PDI-P di 2029
"Oh tidak apa-apa, kita kan bukan kepala kerbau, kita kepala banteng. Jadi tidak ada kaitannya itu. Yang bisa menjelaskan urusan injak-menginjak itu kan Pak Jokowi sendiri," kata Komarudin kepada wartawan Selasa (30/6/2026).
Komarudin menegaskan, Jokowi adalah bagian dari masa lalu PDI-P sehingga apapun yang ia lakukan kata Komarudin sebaiknya tak tak perlu dikaitkan dengan partai politik tersebut. Pun demikian PDI-P lanjut dia tak punya kepentingan merespons hal tersebut.
"Tapi bagi saya, Jokowi itu masa lalu PDI Perjuangan. Jadi apa pun aktivitas beliau, saya tidak mau menanggapi karena bukan lagi bagian dari partai," ujarnya.
"Kalau menyangkut kepala, ya kepala kerbau yang diinjak, bukan sapi. Jadi tidak perlu orang PDI Perjuangan menanggapi urusan itu. Bukan banteng. Kecuali yang diinjak kepala banteng, pasti kita berurusan," imbuhnya.
Berbeda dengan Komarudin, Ketua DPP PDI-P Andreas Hugo Pareira merespons tegas peristiwa itu. Dia mengatakan, apabila Jokowi mengasosiasikan prosesi menginjak kepala kerbau itu sebagai simbol menghina PDI-P, maka ia salah besar, sebab lambang Partai Politik Besutan Megawati Soekarnoputri itu berlambang Banteng moncong putih.
“Saya tidak memahami adat istiadat dan budaya masyarakat Lampung, apalagi sampai dikaitkan dengan menginjak kepala Kerbau,” kata Andreas.
“Tapi kalau seandainya menginjak kepala kerbau itu, oleh yang menginjak, mau dimaknai sebagai simbolisasi menghina PDI Perjuangan, maaf lambang PDI Perjuangan bukan kepala kerbau. Lambang PDI Perjuangan itu Banteng Moncong Putih,” tambahnya.
Andreas lalu menyindir Jokowi dengan mengatakan bahwa sebagai seorang presiden yang pernah memimpin Indonesia selama satu dekade, ia seharusnya mencari gelar dari luar negeri.
“Juga menurut saya tidak biasa dan tidak pantas seseorang yang sudah pernah menjadi presiden yang merupakan simbol pemersatu bangsa, kemudian datang ke daerah untuk dinobatkan sebagai raja, atau sebagai kepala adat atau kepala suku dari sekelompok masyarakat,” tuturnya.
“Masyarakat bangsa ini akan bangga kalau mantan presidennya memperoleh pengakuan atau gelar akademik dari negara lain, atau organisasi atau Badan Internasional,” tambahnya.
Andreas pun menilai Jokowi seharusnya ‘naik kelas’.
Baca Juga: Jokowi Injak Kepala Kerbau: Ambisi Kekuasaan Tanpa Batas Sang Baginda Raja
“Harus naik kelas dong, kelasnya harus beda dong. Masa sih, mantan presiden mainannya masih lokal-lokalan, masih mau cari dukungan suara kah?,” ucapnya.