Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus memperluas jangkauan layanan transportasi umum melalui pengembangan Transjabodetabek. Langkah ini bukan tanpa alasan.
Tingginya mobilitas masyarakat lintas wilayah setiap hari menjadi faktor utama di balik kebijakan tersebut.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, menjelaskan bahwa kemacetan di Jakarta tidak bisa dilepaskan dari arus masuk jutaan orang dari wilayah penyangga.
Menurutnya, setiap pagi, Jakarta menjadi tujuan utama masyarakat untuk bekerja dan beraktivitas, lalu kembali ke daerah asal mereka pada sore hari.
“Jadi persoalan kemacetan di Jakarta, kenapa kemudian transportasi umumnya, konektivitasnya kami perluas menjadi Transjabodetabek,” ungkap Pramono saat ditemui Olenka, di Jakarta, baru-baru ini.
Menurut Pramono, sekitar empat juta orang memasuki Jakarta setiap hari kerja. Lonjakan mobilitas inilah yang memicu kepadatan lalu lintas, terutama pada jam sibuk pagi dan sore.
“Kenapa itu kami lakukan? Karena memang kemacetan selalu terjadi pada pagi hari atau sore hari ketika sekitar 4 juta orang masuk ke Jakarta dan kemudian kembali ke kediamannya masing-masing,” katanya.
Baca Juga: Putar Otak Atasi Banjir, Pramono Normalisasi Ciliwung yang Mangkrak Sejak Era Anies Baswedan
Untuk menjawab tantangan tersebut, lanjut Pramono, Pemprov DKI tidak hanya memperluas rute Transjakarta ke wilayah penyangga seperti Depok dan Bogor, tetapi juga mendorong peningkatan konektivitas antarmoda.
Bahkan, pemerintah telah mengajukan pembukaan rute strategis dari Blok M menuju Bandara Soekarno-Hatta.
“Termasuk kami sudah mengajukan untuk membuka dari Blok M ke Airport, ke Soetta,” ungkap Pramono.
Ia menegaskan bahwa saat ini kualitas layanan transportasi publik di Jakarta sudah mengalami banyak kemajuan. Selain tarif yang relatif terjangkau, tingkat konektivitas transportasi di Jakarta telah mencapai 92 persen.
Tak hanya itu, kata Pramono, Pemprov DKI juga memberikan fasilitas gratis bagi 15 golongan masyarakat.
“Padahal sekarang transportasi kita sudah cukup baik, cukup murah, konektivitas di Jakarta sudah 92 persen, 15 golongan kita gratiskan,” jelasnya.
Melalui perluasan Transjabodetabek, Pramono berharap semakin banyak masyarakat beralih ke transportasi umum.
Menurutnya, kemacetan di kota besar seperti Jakarta memang sulit dihilangkan sepenuhnya, namun dapat ditekan dengan sistem transportasi publik yang terintegrasi dan mudah diakses.
“Tentunya sebagai pemerintah DKI Jakarta kami berharap orang semakin banyak memanfaatkan itu. Jadi itulah yang kami dorong dan kalau dilihat memang kemacetan di Jakarta pasti ada, tapi sudah cukup,” tutup Pramono.
Baca Juga: Penyakit Kencing Tikus Intai Warga Jakarta Terdampak Banjir, Pramono Gratiskan Puskesmas dan RSUD