Growthmates, menjadi seorang CEO bukan hanya soal mampu memimpin tim atau memahami bisnis. Di balik keputusan strategis perusahaan, ada satu aspek yang hampir selalu berjalan beriringan, yaitu keuangan.

Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk periode 2017–2024, Vidjongtius, menilai, latar belakang di bidang keuangan dapat menjadi modal kuat bagi seseorang untuk menduduki posisi CEO.

Pasalnya, setiap keputusan bisnis pada akhirnya akan berkaitan dengan kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan dan menjaga keberlanjutan usaha.

“Ya, kembali lagi karena bisnis itu selalu berdampingan dengan keuangan. Karena bisnis itu kan ujung-ujungnya mencari laba. Laba ini kan berhubungan dengan keuangan,” ungkap Vidjongtius, saat ditemui Olenka, di Jakarta, belum lama ini.

Menurut Vidjongtius bisnis dan keuangan pada dasarnya merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Namun, ia menekankan bahwa seorang CEO tidak harus menjadi ahli keuangan untuk dapat memahami aspek tersebut.

“Jadi memang ini adalah satu kesatuan yang harus dijadikan satu. Kalau kita lihat, dalam arti kompetensi, belum tentu semua pemimpin punya dua-duanya,” jelasnya.

Vidjongtius melihat bahwa latar belakang seorang pemimpin bisa saja berbeda dengan bidang keuangan. Bahkan, menurutnya, perbedaan kompetensi tersebut justru dapat saling melengkapi ketika ditempatkan dalam struktur kepemimpinan perusahaan.

Ia pun mencontohkan, Kalbe yang sejak awal didirikan oleh orang-orang dengan latar belakang kesehatan, bukan keuangan.

“Kayak misalnya KLB aja. Pendiri KLB kan bukan orang keuangan. Pendiri KLB adalah orang kesehatan. Supaya mereka lebih komplit, harus ada orang keuangan menjadi partner,” tuturnya.

Bagi Vidjongtius, pola tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan perusahaan tidak harus bertumpu pada satu orang yang menguasai seluruh bidang.

Vidjongtius bilang, jika seorang CEO memiliki kekuatan di sisi bisnis atau operasional, kehadiran pemimpin atau partner yang kuat dalam keuangan dapat membantu memberikan perspektif yang lebih lengkap.

“Karena bisnis itu memang sangat berhubungan langsung dengan keuangan. Idealnya memang seorang CEO, dia juga menguasai ilmu keuangan. Menguasai tidak harus menjadi ahli keuangan,” tegasnya.

Baca Juga: Mengenal Format Meeting Efektif di Kantor ala Vidjongtius

Yang lebih penting, menurut Vidjongtius, seorang CEO setidaknya perlu memiliki pemahaman dasar mengenai keuangan.

Ia tidak harus menguasai seluruh detail pembukuan, sebab perusahaan memiliki direktur atau tim keuangan yang menangani aspek teknis tersebut.

Namun, CEO tetap perlu mampu membaca kondisi dan tren keuangan perusahaan untuk memahami dampak dari keputusan bisnis yang diambil.

“Tapi dia tahu, dia bisa melihat trend misalnya gitu ya. Dia tidak mengerti pembukuan, gak apa-apa. Karena ada direktur keuangan kan,” paparnya.

“Tapi dia harus mengerti, si CEO-nya itu harus mempelajari lah. Sehingga dia sedikit banyak mengetahui mengenai keuangan. Sehingga akan mempermudah dalam proses pengambilan keputusan,” lanjutnya.

Dengan pemahaman tersebut, seorang CEO dapat melihat bisnis tidak hanya dari sisi pertumbuhan, tetapi juga dari sisi kesehatan keuangannya.

Vidjongtius mengingatkan bahwa pertumbuhan bisnis yang terlihat tinggi belum tentu menunjukkan perusahaan berada dalam kondisi yang sehat.

Salah satu indikator penting yang perlu diperhatikan adalah apakah pertumbuhan tersebut benar-benar menghasilkan keuntungan dan arus uang yang memadai.

“Karena kalau bisnis tidak menghasilkan untung, dia tidak akan sustain. Seolah pertumbuhannya tinggi, tapi uangnya gak ada. Hilang di mana? Nah ini kan perlu dicari,” ungkapnya.

Di sinilah, menurutnya, peran orang dengan kompetensi keuangan menjadi penting. Mereka dapat membantu perusahaan menelusuri ke mana uang mengalir dan mengapa pertumbuhan bisnis tidak selalu berbanding lurus dengan kondisi keuangan.

“Jadi partner ini harus jadi satu. Jadi kalau tidak bisa sendirian, yaudah berdua gitu ya,” katanya.

Kolaborasi antara pemimpin yang memahami bisnis dan partner yang kuat di bidang keuangan, lanjut Vidjongtius, pada akhirnya dapat membantu perusahaan melihat pergerakan bisnis secara lebih utuh.

“Sehingga bisa melihat lebih komprehensif pergerakan bisnis tersebut,” pungkasnya.

Baca Juga: Cara Menghadapi Krisis Bisnis ala Vidjongtius