Director Public Policy, Digital Safety Microsoft, Madeline Shepherd, menegaskan bahwa literasi digital menjadi landasan penting agar siswa mampu memanfaatkan AI dengan aman dan bertanggung jawab.

“Literasi digital merupakan salah satu fondasi terpenting dalam penggunaan AI yang bertanggung jawab. Terlepas dari apakah siswa sudah menggunakan AI saat ini, mereka perlu memiliki keterampilan untuk menilai informasi secara kritis, mengenali konten yang direkayasa, memeriksa fakta, dan memahami risiko ketergantungan berlebihan pada AI,” ujar Madeline.

Menurut dia, materi pembelajaran tersebut disusun agar dapat digunakan secara praktis oleh guru dengan tingkat pemahaman AI yang beragam.

“Rangkaian sumber belajar AI Classroom Toolkit kami dirancang untuk membantu pendidik membahas hal-hal tersebut secara praktis dan mudah dipahami, di mana pun posisi mereka dalam perjalanan memahami AI. Kami antusias melihat para guru di seluruh Indonesia menerapkan materi ini dalam pembelajaran,” katanya.

Peluncuran Microsoft Elevate for Educators melibatkan sekitar 100 guru, tenaga kependidikan, dan pegiat pendidikan yang diundang secara terbuka, termasuk anggota komunitas mitra program. Para peserta mengikuti diskusi dan lokakarya mengenai penerapan AI dalam pembelajaran, termasuk cara memeriksa akurasi informasi, memahami risiko privasi, serta membangun kebiasaan penggunaan teknologi yang aman di ruang kelas.

Group CEO Biji-biji Initiative dan Mereka, Rashvin Pal Singh, menuturkan, penguatan kompetensi AI di lingkungan pendidikan perlu dilakukan melalui pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pengenalan teknologi, tetapi juga pembangunan komunitas pendidik.

“Bagi kami, penguatan kompetensi AI dalam dunia pendidikan tidak sekadar memperkenalkan teknologi baru. Melalui Microsoft Elevate for Educators, kami ingin membangun komunitas pendidik yang kuat dan saling terhubung, tempat para pendidik belajar satu sama lain, berbagi praktik baik, serta menjadi penggerak pemanfaatan AI yang bermakna, inklusif, dan bertanggung jawab sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan realitas pembelajaran di kelas,” tutur Rashvin.

Acara tersebut juga menghadirkan diskusi panel yang melibatkan Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), UNICEF Indonesia, Microsoft, serta para pimpinan sekolah. Diskusi membahas pengalaman guru dan siswa dalam menggunakan AI, kesenjangan keterampilan digital, serta tantangan menyeimbangkan inovasi teknologi dengan keselamatan, kesejahteraan, dan kemampuan berpikir kritis siswa.

Direktorat Pengawasan Sertifikasi dan Transaksi Elektronik Kemkomdigi, Okky Robiana Sulaeman, menyampaikan bahwa pemanfaatan AI di sektor pendidikan harus diimbangi dengan pemahaman mengenai keamanan digital dan perlindungan data pribadi.

“Pemanfaatan AI di lingkungan pendidikan perlu diiringi dengan pemahaman mengenai keamanan digital, perlindungan data pribadi, dan tanggung jawab dalam menggunakan teknologi. Guru memiliki peran penting dalam membantu siswa mengenali peluang sekaligus risiko di ruang digital,” ujar Okky.

Ia menilai kolaborasi antara pemerintah, industri, dan mitra pendidikan diperlukan untuk memastikan perkembangan teknologi berjalan seiring dengan upaya melindungi peserta didik.

“Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, industri, dan mitra pendidikan menjadi langkah penting untuk membangun lingkungan belajar yang mampu mengikuti perkembangan teknologi sekaligus melindungi kepentingan peserta didik,” tandasnya.

Baca Juga: ‘Skill Our Future’ Sukses Latih 30.000 Pemuda Indonesia, UNDP dan Biji-biji Initiative Cetak Generasi Siap Digital