Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas harian. Mulai dari membuka notifikasi setelah bangun tidur, mengecek linimasa di sela jam kerja, hingga menonton unggahan orang lain sebelum terlelap. Tanpa disadari, kebiasaan ini kerap memicu dorongan untuk membandingkan hidup sendiri dengan potongan kehidupan orang lain yang tampil di layar.
Ada yang membagikan momen liburan, pencapaian karier, atau keseharian yang tampak selalu menyenangkan. Di sisi lain, tak sedikit yang sedang merasa lelah, menahan pengeluaran, atau menjalani hari-hari yang terasa biasa saja. Berikut beberapa langkah yang dapat membantu mengurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain di media sosial.
1. Pahami bahwa media sosial hanya menampilkan potongan cerita
Langkah awal yang penting adalah menyadari bahwa media sosial bukan representasi utuh dari kehidupan seseorang. Konten yang muncul umumnya adalah momen terbaik, bukan keseluruhan proses di baliknya. Perjuangan, kegagalan, dan rutinitas sehari-hari sering kali tidak terlihat.
Dengan memahami bahwa yang ditampilkan hanyalah bagian kecil dari perjalanan seseorang, perasaan membandingkan diri dapat berkurang karena konteks yang dilihat memang tidak lengkap.
2. Kenali momen saat mulai membandingkan diri
Perhatikan kapan dorongan untuk membandingkan hidup paling sering muncul. Apakah saat sedang lelah, bosan, atau merasa tidak puas dengan keadaan sendiri. Kondisi emosional yang kurang stabil biasanya membuat perbandingan terasa lebih kuat.
Dengan mengenali pemicunya, kamu bisa lebih waspada dan memilih untuk membatasi aktivitas scrolling atau mengalihkan perhatian ke hal lain yang lebih menenangkan.
Baca Juga: Benarkah Pernikahan Kita Bahagia, atau Sekadar Mengejar Standar 'Couple Goals' di Media Sosial?
3. Kurasi linimasa secara lebih sadar
Konten yang muncul di media sosial sangat dipengaruhi oleh akun yang kamu ikuti. Jika linimasa justru sering memicu rasa tidak cukup atau tertinggal, tidak ada salahnya mulai melakukan kurasi.
Meng-unfollow atau mute akun tertentu bisa menjadi langkah sederhana untuk menciptakan ruang digital yang lebih sehat dan mendukung kondisi mental.
4. Batasi durasi penggunaan, bukan berhenti sepenuhnya
Menghindari media sosial secara total sering kali terasa sulit. Banyak informasi, hiburan, dan koneksi yang memang dibutuhkan dari platform tersebut. Alternatif yang lebih realistis adalah membatasi waktu penggunaannya.
Menetapkan jam tertentu untuk mengakses media sosial dapat membantu menjaga keseimbangan, sehingga aktivitas digital tidak terus menguasai pikiran sepanjang hari.
5. Kembali fokus pada proses hidup sendiri
Setiap orang memiliki ritme dan garis waktu yang berbeda. Ada yang pencapaiannya terlihat cepat, ada pula yang menempuh jalan lebih panjang. Dengan berfokus pada proses hidup sendiri, kamu bisa kembali menghargai realitas yang sedang dijalani.
Entah itu membangun karier, menjaga kesehatan, memperkuat hubungan, atau menata keuangan, setiap langkah kecil tetap memiliki arti meski tidak selalu tampak menarik di layar orang lain.
6. Kurangi ketergantungan pada validasi angka
Jumlah likes, views, dan komentar sering kali menjadi tolok ukur tanpa disadari. Padahal, angka-angka tersebut tidak selalu mencerminkan nilai diri atau kualitas hidup seseorang.
Mengurangi ketergantungan pada validasi eksternal dapat membantu membangun kepercayaan diri dan kepuasan yang bersumber dari pengalaman nyata, bukan dari respons digital.
7. Bangun rutinitas di dunia nyata
Semakin aktif dan bermakna kehidupan di dunia nyata, semakin kecil ruang untuk membandingkan diri dengan orang lain di media sosial. Aktivitas sederhana seperti berolahraga, membaca, memasak, atau berbincang dengan orang terdekat dapat menghadirkan rasa hadir yang lebih utuh.
Rutinitas ini membantu mengembalikan fokus pada diri sendiri dan membuat hidup terasa lebih nyata, bukan sekadar diukur dari pencapaian orang lain.
8. Dampak perbandingan terhadap keuangan pribadi
Perbandingan di media sosial juga kerap memengaruhi keputusan finansial. Paparan gaya hidup orang lain dapat memicu keinginan belanja impulsif atau rasa tertinggal secara ekonomi.
Dengan kondisi mental yang lebih tenang, keputusan keuangan biasanya menjadi lebih rasional dan selaras dengan tujuan pribadi, tanpa tekanan mengikuti standar hidup yang tidak sesuai.
Menyusun Tujuan Keuangan yang Relevan
Alih-alih membandingkan pencapaian finansial dengan orang lain, menyusun tujuan keuangan yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pribadi bisa menjadi langkah yang lebih sehat. Tujuan ini memberikan arah sekaligus rasa aman dalam jangka panjang.
Keuangan yang stabil dibangun melalui konsistensi, bukan kecepatan. Langkah kecil yang dilakukan secara rutin justru sering menghasilkan hasil yang lebih berkelanjutan.
Deposito Digital sebagai Pilihan Pengelolaan Dana
Bagi yang ingin mengelola keuangan dengan lebih tenang, deposito online dapat menjadi salah satu opsi. Produk ini menawarkan tujuan simpanan yang jelas, tingkat risiko relatif rendah, serta suku bunga kompetitif dibandingkan instrumen investasi berisiko tinggi.
Melalui Deposito WOW di neobank dari Bank Neo Commerce, deposito dapat dibuka dengan nominal mulai dari Rp100.000. Tersedia pilihan tenor beragam, mulai dari 7 hari hingga 12 bulan, yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan perencanaan keuangan.