Menjaga kesehatan jantung bukan cuma soal rutin berolahraga atau menghindari stres. Apa yang dikonsumsi setiap hari juga ikut menentukan kondisi jantung dalam jangka panjang.
Masalahnya, beberapa makanan yang terlihat "sehat" ternyata belum tentu menjadi pilihan terbaik jika dikonsumsi terlalu sering. Terlebih, sejumlah produk kerap menggunakan klaim seperti heart smart, plant-based, atau rendah lemak pada kemasannya.
Ahli jantung Dr. Sanjay Bhojraj, yang telah lebih dari dua dekade menangani penyakit jantung, penyumbatan arteri, dan gangguan metabolisme, mengatakan masih banyak orang yang luput memperhatikan pola makan.
Menurutnya, ada pasien yang merasa sudah menjalani gaya hidup sehat karena rutin berolahraga dan mengelola stres. Namun, mereka tetap mengalami masalah kardiovaskular.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah makanan yang masuk ke tubuh setiap hari, terutama produk yang tinggi gula tambahan, natrium, lemak jenuh, atau telah melalui pemrosesan panjang.
Melansir CNBC Make It pada Selasa (06/10/2026), berikut tujuh jenis makanan yang sebaiknya tidak terlalu sering dikonsumsi jika ingin menjaga kesehatan jantung:
1. Daging olahan
Deli meat atau daging olahan sering menjadi pilihan praktis untuk membuat sandwich. Namun, makanan seperti ham, salami, bacon, dan sejenisnya sebaiknya tidak dikonsumsi berlebihan.
Produk tersebut dapat mengandung natrium tinggi serta bahan tambahan seperti nitrit dan nitrat. Konsumsi daging olahan dalam jumlah tinggi juga telah dikaitkan dengan berbagai risiko kesehatan, termasuk penyakit kardiovaskular dan beberapa jenis kanker.
Sebagai alternatif, kamu bisa menggunakan dada ayam atau daging kalkun yang dipanggang sendiri kemudian diiris sebagai isian sandwich.
Baca Juga: Sering Ngos-ngosan dan Kaki Bengkak? Waspadai Dampak Obesitas pada Jantung
2. Minuman bersoda dan minuman energi
Minuman bersoda dan minuman energi bisa menjadi sumber gula tambahan yang mudah dikonsumsi tanpa disadari. Beberapa minuman energi juga mengandung kafein dalam jumlah tinggi.
Terlalu banyak minuman berpemanis dapat meningkatkan asupan kalori dan berkaitan dengan risiko obesitas serta diabetes tipe 2. Kedua kondisi tersebut merupakan faktor risiko penyakit jantung.
Minuman berlabel "diet" juga tidak otomatis berarti lebih sehat. Kandungan dan jenis pemanis yang digunakan berbeda-beda, sehingga tetap perlu diperhatikan sebagai bagian dari keseluruhan pola makan.
Sebagai pilihan, air soda dengan perasan lemon atau teh herbal tanpa gula bisa menjadi alternatif.
3. Sereal sarapan tinggi gula
Ini dia makanan yang sering menjadi favorit anak-anak. Kemasan warna-warni dan karakter kartun membuat sereal terlihat sebagai pilihan sarapan yang praktis sekaligus menyenangkan.
Namun, tidak semua sereal memiliki kandungan nutrisi yang sama. Beberapa produk justru mengandung gula tambahan cukup tinggi.
Konsumsi makanan tinggi gula secara berlebihan dapat menyebabkan lonjakan kadar gula darah. Dalam jangka panjang, pola makan tinggi gula tambahan juga dapat berkontribusi terhadap obesitas, diabetes tipe 2, dan gangguan metabolisme yang berkaitan dengan kesehatan jantung.
Jika ingin tetap makan sereal atau makanan sejenis, kamu bisa mempertimbangkan steel-cut oats atau oat giling kasar. Tambahkan buah beri dan kayu manis untuk memberikan rasa sekaligus serat dan nutrisi dari bahan makanan utuh.
4. Makanan cepat saji yang digoreng
Kentang goreng, corn dog, funnel cake, dan berbagai makanan yang dimasak dengan metode deep-frying sebaiknya tidak terlalu sering masuk menu harian.
Makanan yang digoreng umumnya memiliki kandungan kalori dan lemak yang cukup tinggi. Jika dikonsumsi secara rutin, asupan energi berlebihan dapat berkontribusi terhadap berbagai faktor risiko metabolik.
Sebagai alternatif, makanan bisa dipanggang dengan sedikit minyak, misalnya menggunakan minyak zaitun.
Baca Juga: Gagal Jantung Lanjut Punya Opsi Terapi Baru, Dokter Jelaskan Potensi LVAD
5. Roti putih dan karbohidrat olahan
Roti putih, crackers, serta berbagai produk berbahan tepung olahan biasanya memiliki kandungan serat lebih rendah dibandingkan makanan yang dibuat dari biji-bijian utuh.
Karbohidrat olahan juga lebih cepat dicerna sehingga dapat menyebabkan kenaikan kadar gula darah lebih cepat dibandingkan makanan yang kaya serat.
Jika dikonsumsi terlalu sering, pola makan yang banyak mengandalkan karbohidrat olahan dapat berkontribusi terhadap peningkatan risiko obesitas, diabetes tipe 2, dan penyakit kardiovaskular.
Sebagai pilihan, kamu bisa memilih roti yang benar-benar terbuat dari 100 persen biji-bijian utuh atau produk sprouted grain.
6. Margarin dan olesan pengganti mentega
Margarin pernah banyak dipromosikan sebagai alternatif mentega yang lebih ramah bagi jantung. Namun, kandungan lemak trans pada sejumlah produk margarin lama menjadi perhatian dalam dunia kesehatan.
Lemak trans dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL dan menurunkan HDL sehingga meningkatkan risiko penyakit jantung.
Saat ini, banyak negara telah membatasi atau melarang penggunaan minyak terhidrogenasi parsial sebagai sumber lemak trans. Karena itu, kandungan nutrisi margarin dapat berbeda antara satu produk dan produk lainnya.
Sebelum membeli, biasakan membaca label nutrisi. Minyak zaitun extra-virgin juga bisa menjadi salah satu alternatif sumber lemak dalam pola makan.
7. 'Daging' nabati yang sangat diproses
Jangan langsung menganggap semua makanan berlabel plant-based pasti sehat. Sejumlah produk pengganti daging dibuat melalui proses panjang dan dapat mengandung natrium, minyak, serta berbagai bahan tambahan. Karena itu, label plant-based tetap perlu dilihat bersama daftar bahan dan informasi nilai gizinya.
Jika ingin mendapatkan sumber protein nabati yang lebih sederhana, lentil, kacang-kacangan, dan tahu yang diproses secara minimal dapat menjadi pilihan.
Kalau kamu memiliki kondisi kesehatan tertentu atau ingin mengubah pola makan secara signifikan, alangkah baiknya konsultasikan pilihan makanan dengan dokter atau ahli gizi agar sesuai dengan kebutuhan tubuh, ya, Growthmates!