Growthmates, perkembangan teknologi medis membuka peluang baru bagi pasien dengan gagal jantung lanjut yang selama ini memiliki pilihan terapi terbatas. Salah satunya adalah Left Ventricular Assist Device (LVAD), perangkat pompa mekanis yang membantu kerja jantung dalam memompa darah ke seluruh tubuh.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Siloam Hospitals Kebon Jeruk, dr. Leonardo Paskah Suciadi, Sp.JP, FIHA, FAPSC, FESC, FHFA, mengatakan LVAD, khususnya HeartMate 3, bukanlah teknologi baru. Perangkat tersebut telah melalui perkembangan dan penelitian selama bertahun-tahun serta memiliki basis bukti klinis yang kuat.
“LVAD, terutama HeartMate 3, ini bukan teknologi baru. Jadi sudah ada generasinya lebih dari 25 tahun, tapi generasi yang sekarang kita pakai, HeartMate 3, sudah sekitar 10 tahun lebih dipublikasikan di luar dan kita punya evidence base yang sangat baik sekali tentang alat pompa artifisial ini dan banyak publikasi internasional,” terang dr. Paskah, saat Press Conference Siloam Hospitals Kebon Jeruk: A Heartbeat of History, yang digelar di CGV Central Park, Jakarta, Selasa (29/9/2026).
dr. Paskah menjelaskan, teknologi tersebut menjadi penting karena prognosis pasien yang sudah memasuki tahap gagal jantung lanjut masih sangat serius meski telah mendapatkan terapi obat terbaik.
Ia menambahkan, data menunjukkan bahwa pasien dengan gagal jantung lanjut yang hanya mendapatkan terapi medis memiliki angka kelangsungan hidup yang rendah.
“Data menunjukkan bahwa survival rate pada pasien gagal jantung lanjut tanpa alat apa pun, dengan obat-obat terbaik, itu hanya tidak lebih dari 50 persen dalam satu tahun,” katanya.
Artinya, sebagian besar pasien yang sudah memasuki stadium gagal jantung lanjut menghadapi risiko kematian yang tinggi dalam satu tahun pertama. Namun, kondisi tersebut dapat berbeda ketika pasien mendapatkan dukungan mekanis melalui LVAD.
“Begitu dipasang alat pompa LVAD, angka keberhasilan hidupnya sampai lima tahun berdasarkan registri internasional itu mencapai sekitar 64 persen,” jelas dr. Paskah.
Angka tersebut bahkan lebih tinggi pada pasien berusia lebih muda. Menurut dr. Paskah, pasien berusia di bawah 50 tahun yang mendapatkan LVAD memiliki angka kelangsungan hidup hingga 76 persen dalam lima tahun.
“Sedangkan pada pasien yang usia 50 tahun ke bawah, kalau dipasang alat ini, angka survival-nya bahkan mencapai 76 persen dalam lima tahun. Hampir serupa dengan transplantasi jantung. Itu fakta di lapangannya,” tuturnya.
Meski demikian, keberadaan LVAD tidak dapat dilepaskan dari persoalan yang lebih besar, yakni bagaimana gagal jantung ditangani sejak tahap awal. Sebab, LVAD diperuntukkan bagi pasien dengan kondisi gagal jantung lanjut, bukan seluruh pasien gagal jantung.
dr. Paskah menilai, penanganan gagal jantung di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk dalam upaya mencegah pasien berkembang hingga mencapai stadium lanjut. Padahal, sebagian besar terapi modern untuk gagal jantung sebenarnya sudah tersedia di Indonesia.
“Tanpa berbicara LVAD, tidak mungkin kita tidak berbicara gagal jantung. Fenomena gagal jantung itu sangat ketinggalan juga dalam banyak aspek. Sedangkan gagal jantung secara umum sebenarnya bisa diobati dengan sangat baik dengan obat-obatan yang tersedia di lapangan saat ini,” ungkapnya.
Baca Juga: LVAD untuk Pasien Gagal Jantung Stadium Lanjut, Ini Penjelasan Dokter Siloam Hospitals Kebon Jeruk