China selama bertahun-tahun menjadi salah satu sumber pembiayaan pembangunan infrastruktur di berbagai negara. Dari pembangkit listrik, jalan raya, hingga jalur kereta api, pendanaan dari Negeri Tirai Bambu ikut menopang sejumlah proyek besar di Asia dan Afrika.
Namun, di balik pembangunan tersebut, ada kewajiban utang yang harus dibayar negara penerima. Lantas, negara mana yang memiliki utang terbesar kepada China?
Berdasarkan data Bank Dunia dalam International Debt Statistics yang dikutip dari Visual Capitalist pada Senin (26/10/2026), Pakistan menjadi negara dengan utang terbesar kepada kreditur China pada 2024.
Total utang Pakistan yang tercatat mencapai US$22,38 miliar. Angka tersebut jauh di atas Angola sebesar US$14,40 miliar dan Sri Lanka sebesar US$8,69 miliar.
Baca Juga: Mengenal Hongqi, Mobil Premium Asal China yang Kini Hadir di Indonesia
Menariknya, Indonesia juga masuk dalam daftar negara yang memiliki utang kepada China. Meski begitu, nilainya masih jauh lebih kecil dibandingkan negara-negara yang berada di posisi teratas.
Indonesia Punya Utang US$1,45 Miliar kepada China
Indonesia berada di peringkat ke-32 dalam daftar tersebut dengan nilai utang kepada kreditur China sebesar US$1,45 miliar. Angka ini menempatkan Indonesia di bawah Guinea yang memiliki utang sebesar US$1,65 miliar. Sementara itu, Indonesia masih berada di atas Mozambik, Tanzania, dan Djibouti.
Sebagai perbandingan, utang Pakistan kepada China mencapai lebih dari 15 kali lipat dibandingkan Indonesia.
Namun, Growthmates perlu memahami bahwa angka tersebut bukan berarti seluruh utang Indonesia atau negara-negara lain kepada China.
Baca Juga: Daftar Negara Terkaya di Dunia 2026 Berdasarkan PDB: AS dan China Masih Mendominasi
Data Bank Dunia yang digunakan dalam perhitungan ini secara khusus mencatat utang luar negeri jangka panjang sektor publik serta utang yang dijamin pemerintah atau public and publicly guaranteed debt kepada kreditur China pada 2024.
Artinya, masih terdapat jenis kewajiban lain yang tidak masuk dalam perhitungan tersebut.
5 Negara dengan Utang Terbesar kepada China
Pakistan menjadi negara dengan nilai utang terbesar, yakni US$22,38 miliar. Posisi kedua ditempati Angola dengan US$14,40 miliar, disusul Sri Lanka sebesar US$8,69 miliar.
Ethiopia berada di posisi keempat dengan US$7,44 miliar, sedangkan Bangladesh melengkapi lima besar dengan US$6,63 miliar.
1. Pakistan, US$22,38 miliar
2. Angola, US$14,40 miliar
3. Sri Lanka, US$8,69 miliar
4. Ethiopia, US$7,44 miliar
5. Bangladesh, US$6,63 miliar
Dominasi negara-negara Asia dan Afrika dalam daftar tersebut tidak terlalu mengejutkan. Sebagian besar pembiayaan dari China digunakan untuk proyek infrastruktur yang membutuhkan modal besar dan waktu pembangunan cukup panjang.
Baca Juga: Utang Indonesia Tembus Rp8.000 Triliun Masih Aman?
Kenapa Banyak Negara Berutang kepada China?
Salah satu alasannya adalah kebutuhan pendanaan untuk membangun infrastruktur dalam skala besar. Pakistan menjadi contoh yang cukup menonjol. Hubungan ekonomi dan strategis Pakistan dengan China telah berkembang selama beberapa dekade, salah satunya melalui proyek China-Pakistan Economic Corridor (CPEC).
Melalui CPEC, China mendukung berbagai proyek seperti pembangkit listrik, jaringan transmisi, jalan raya, serta fasilitas transportasi.
Hingga akhir 2024, sebanyak 17 proyek energi yang telah diselesaikan melalui CPEC menambah kapasitas pembangkit listrik sebesar 8.904 megawatt (MW). Selain itu, pembangunan jalan tol dan jalan raya yang selesai mencapai 888 kilometer.
Infrastruktur tersebut diharapkan dapat memperbaiki pasokan listrik, memperlancar distribusi barang, sekaligus mendukung aktivitas ekonomi Pakistan.
Baca Juga: 'Soal Gibran, Prabowo Gak Perlu Bayar Utang Politik ke Jokowi'
Meski memberikan manfaat pembangunan, pinjaman tersebut tetap menjadi bagian dari kewajiban finansial pemerintah yang harus dikelola.
Pada Maret 2025, China bahkan memberikan perpanjangan waktu pembayaran selama satu tahun untuk pinjaman Pakistan senilai US$2 miliar. Langkah tersebut memberikan ruang bagi Pakistan untuk mengelola kebutuhan pembiayaan dan menjaga kondisi cadangan devisanya.
Bukan Cuma Pakistan, Angola hingga Kenya Juga Mengandalkan China
Angola juga memiliki sejarah panjang dalam pembiayaan infrastruktur dari China. Hubungan tersebut berkembang setelah berakhirnya perang saudara di negara Afrika tersebut.
Pada 2004, China memberikan fasilitas pinjaman awal senilai US$2 miliar untuk membantu pembangunan kembali infrastruktur Angola.
Hubungan pembiayaan kemudian berkembang seiring dengan posisi Angola sebagai salah satu produsen minyak. Meski begitu, utang Angola kepada China mulai menurun. Pada 2024, nilainya tercatat turun hampir seperlima dibandingkan tahun sebelumnya.
Contoh lainnya bisa dilihat di Kenya. Sekitar 90% biaya pembangunan jalur kereta api Mombasa-Nairobi dibiayai melalui pinjaman dari China.
Jalur tersebut menghubungkan Nairobi dengan pelabuhan utama Kenya dan digunakan untuk mengangkut penumpang maupun barang.
Bagi China, skema seperti ini bukan hanya soal memberikan pinjaman. Proyek infrastruktur juga membuka peluang bisnis bagi perusahaan asal China yang terlibat dalam konstruksi, penyediaan peralatan, hingga kegiatan operasional.
Buat Growthmates yang penasaran dengan posisi Indonesia, angka US$1,45 miliar menunjukkan bahwa utang Indonesia kepada kreditur China memang tercatat dalam data tersebut, tetapi skalanya masih jauh di bawah Pakistan yang mencapai US$22,38 miliar.