Sejumlah negara mengeluarkan panduan kesiapsiagaan bagi masyarakat untuk menghadapi berbagai kemungkinan keadaan darurat, mulai dari konflik bersenjata, serangan siber, hingga bencana alam. Pemerintah mengimbau masyarakat menyiapkan persediaan makanan, air minum, obat-obatan, dan kebutuhan pokok agar mampu bertahan ketika layanan publik maupun distribusi logistik terganggu.

Imbauan tersebut disampaikan melalui panduan darurat yang memuat rekomendasi jumlah persediaan dan perlengkapan yang perlu disiapkan setiap rumah tangga. Beberapa negara bahkan meminta warganya memiliki persediaan kebutuhan dasar untuk tiga hari hingga satu minggu. Berikut lima negara yang mengeluarkan panduan kesiapsiagaan tersebut.

1. Inggris

Pemerintah Inggris meluncurkan kampanye kesiapsiagaan bertajuk Be Ready pada 22 Oktober 2026. Melalui kampanye tersebut, pemerintah mengajak masyarakat menyiapkan kebutuhan dasar untuk menghadapi kemungkinan gangguan layanan penting, seperti listrik, air, telepon, dan internet.

Masyarakat dianjurkan menyediakan makanan tahan lama dan air minum untuk kebutuhan selama tiga hari. Pemerintah juga merekomendasikan persediaan air sebanyak tiga liter per orang setiap hari.

Selain itu, masyarakat diminta menyiapkan perlengkapan kebersihan, obat-obatan, kotak P3K, senter, baterai cadangan, pakaian hangat, selimut, dan kantong tidur. Persediaan uang tunai, kartu pembayaran, radio, serta pengisi daya portabel juga dianjurkan.

Baca Juga: 5 Negara yang Paling Banyak Berutang ke China, Indonesia Masuk Daftar?

Kampanye tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap berbagai keadaan darurat, termasuk cuaca ekstrem dan serangan siber.

Di sisi lain, Menteri Pertahanan Inggris Wes Streeting memperingatkan bahwa negara-negara yang menjadi lawan Inggris memiliki potensi siap menyerang Inggris pada 2030 mendatang. 

Dalam tulisannya di The Telegraph pada Sabtu (24/10/2026), Streeting menyebut Inggris dan sekutu NATO memiliki waktu kurang lebih 1.000 hari untuk meningkatkan kesiapan pertahanan. 

Ia menegaskan bahwa perubahan kapasitas militer dan ekonomi perang negara-negara lawan membuat Inggris perlu memperkuat kemampuan pertahanannya bersama para sekutu.

2. Jerman

Jerman melalui Federal Office of Civil Protection and Disaster Assistance (BBK) menyarankan masyarakat menyimpan persediaan makanan dan minuman untuk kebutuhan selama 10 hari.

Dalam panduan resminya, BBK merekomendasikan masyarakat menyediakan sekitar 14 liter cairan per orang untuk kebutuhan satu minggu. Persediaan tersebut dapat berupa air mineral, jus buah, maupun minuman lain yang memiliki masa simpan cukup panjang.

BBK menjelaskan, persediaan darurat diperlukan untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan yang dapat menghambat distribusi kebutuhan pokok. Beberapa di antaranya adalah banjir, hujan salju lebat, longsoran salju, dan pemadaman listrik berskala besar. 

Selain itu, gangguan rantai pasokan juga dapat terjadi akibat wabah penyakit pada hewan maupun kecelakaan serius pada fasilitas teknis berskala besar.

Baca Juga: 7 Negara dengan Biaya Hidup Termahal di Dunia 2026

Masyarakat dianjurkan memilih makanan yang biasa dikonsumsi sehari-hari agar persediaan dapat digunakan secara optimal. Makanan tersebut sebaiknya tahan lama, tidak memerlukan pendinginan, dan dapat dikonsumsi tanpa proses memasak.

3. Swedia

Swedia menjadi salah satu negara yang secara terbuka memasukkan kemungkinan konflik bersenjata dalam panduan kesiapsiagaan masyarakatnya. Pemerintah melalui Swedish Civil Defence and Resilience Agency menerbitkan brosur berjudul In Case of Crisis or War. 

Dalam panduan tersebut, pemerintah menjelaskan bahwa situasi keamanan di kawasan Eropa semakin serius. Ancaman yang perlu diantisipasi meliputi perang, terorisme, serangan siber, dan penyebaran informasi menyesatkan.

Pemerintah Swedia meminta masyarakat mempersiapkan kebutuhan dasar agar mampu bertahan secara mandiri setidaknya selama satu minggu. Imbauan ini diberikan untuk mengantisipasi kemungkinan terganggunya layanan publik dan distribusi bantuan ketika krisis terjadi.

Persediaan yang dianjurkan meliputi makanan tahan lama, air bersih, radio bertenaga baterai, senter, obat-obatan, perlengkapan P3K, pakaian hangat, dan selimut.

Dalam brosur tersebut, masyarakat juga disarankan menyiapkan uang tunai, perlengkapan kebersihan, serta kebutuhan khusus bagi anggota keluarga. Pemerintah turut menekankan pentingnya kerja sama antartetangga untuk membantu satu sama lain selama keadaan darurat.

4. Prancis

Prancis juga memiliki panduan resmi untuk menghadapi berbagai keadaan darurat melalui program Kit d'urgence 72h atau tas darurat 72 jam. Panduan ini diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Keamanan Sipil dan Manajemen Krisis di bawah Kementerian Dalam Negeri Prancis.

Dalam panduan tersebut, pemerintah menyebut 72 jam pertama setelah bencana besar sebagai periode yang paling sulit. Oleh karena itu, masyarakat dianjurkan menyiapkan kebutuhan pokok agar dapat bertahan secara mandiri sambil menunggu bantuan. 

Berdasarkan panduan resminya, masyarakat perlu menyediakan enam liter air minum per orang dalam kemasan tertutup. Selain itu, persediaan makanan tahan lama yang tidak membutuhkan proses memasak juga perlu disiapkan.

Perlengkapan lain yang dianjurkan meliputi obat-obatan, kotak P3K, radio baterai, senter, pakaian hangat, selimut darurat, dan pengisi daya telepon seluler.

Masyarakat juga diminta menyimpan uang tunai, fotokopi dokumen penting dalam wadah tahan air, serta kunci cadangan rumah dan kendaraan. 

Pemerintah Prancis menyarankan masyarakat menyimpan tas darurat tersebut di tempat yang mudah dijangkau. Persediaan di dalamnya juga perlu diperiksa secara berkala untuk memastikan makanan dan obat-obatan belum kedaluwarsa.

Baca Juga: Tips Nyaman Perjalanan ke Jepang Versi Allianz

5. Jepang

Jepang menjadi salah satu negara yang secara rutin mendorong masyarakatnya menyiapkan persediaan makanan dan minuman untuk menghadapi bencana alam. Imbauan tersebut disampaikan melalui panduan penyimpanan pangan darurat dari Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang (MAFF).

Dalam panduan Food Stockpile Guide for Disasters, pemerintah Jepang merekomendasikan masyarakat menyediakan persediaan makanan minimal untuk tiga hari hingga satu minggu, sesuai jumlah anggota keluarga.

Rekomendasi tersebut mempertimbangkan kemungkinan terganggunya distribusi logistik setelah bencana besar. Kerusakan jalan dan jaringan komunikasi dapat menghambat kedatangan petugas penyelamat maupun penyaluran bantuan.

Jepang juga menghadapi sejumlah potensi bencana besar, seperti gempa bumi di Palung Nankai, gempa bumi di bawah wilayah ibu kota, serta aktivitas vulkanik Gunung Fuji.

Untuk memenuhi kebutuhan selama masa darurat, masyarakat disarankan menyimpan beras, makanan kaleng, mie instan, makanan siap saji, dan bahan pangan lain yang memiliki masa simpan panjang.

Selain makanan, pemerintah merekomendasikan persediaan air sekitar tiga liter per orang setiap hari untuk kebutuhan minum dan memasak. Masyarakat juga dianjurkan menyiapkan kompor portabel beserta bahan bakarnya.

Pemerintah Jepang menekankan pentingnya menyesuaikan persediaan dengan kebutuhan setiap anggota keluarga, termasuk bayi, lansia, dan orang yang memiliki alergi atau kebutuhan makanan khusus.