Growthmates, pertumbuhan pribadi bukanlah proses yang terjadi secara instan atau berjalan lurus tanpa hambatan. Ia tidak datang sebagai terobosan besar atau rutinitas harian yang tiba-tiba mengubah hidup.
Lebih sering, pertumbuhan terbentuk perlahan melalui refleksi, kejujuran pada diri sendiri, dan keberanian menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang tidak selalu punya jawaban cepat.
Buku-buku yang benar-benar berdampak biasanya tidak menjanjikan perubahan dalam hitungan hari. Sebaliknya, buku-buku ini terus tinggal di benak pembacanya, bahkan lama setelah halaman terakhir ditutup. Mereka tidak menggurui atau memaksa motivasi, melainkan hadir sebagai teman berpikir.
Dikutip dari Times Now News, Kamis (22/1/2026), berikut 5 buku yang layak dibaca untuk pertumbuhan pribadi yang lebih dalam di tahun 2026.
Masing-masing buku menawarkan sudut pandang berbeda, mulai dari moral, emosional, kreatif, hingga eksistensial, namun memiliki benang merah yang sama: menolak penyederhanaan hidup dan mengajak pembaca bertumbuh dengan lebih sadar sepanjang tahun 2026.
1. The Second Mountain: The Quest for a Moral Life karya David Brooks
David Brooks memulai dengan sebuah premis yang tenang, namun mengguncang: banyak orang menghabiskan separuh pertama hidup mereka mendaki gunung yang salah.
Status, prestasi, dan kesuksesan individu memang menawarkan kepuasan, tetapi sering kali menyisakan kehampaan setelah puncak tercapai.
Dalam The Second Mountain, Brooks berargumen bahwa kepuasan yang lebih dalam lahir dari komitmen, bukan ambisi.
Dengan merujuk pada filsafat, psikologi, teologi, dan biografi, ia menggambarkan kehidupan yang dibentuk oleh pengabdian kepada orang lain, tujuan yang lebih besar, dan komunitas.
Daya tarik buku ini terletak pada kerendahan hatinya. Brooks tidak berbicara sebagai guru yang telah sampai, melainkan sebagai seseorang yang belajar melalui kegagalan dan kehilangan.
Bagi pembaca yang mulai mempertanyakan makna hidup setelah kesuksesan profesional atau kemandirian pribadi, buku ini menawarkan kalibrasi ulang yang lembut namun jujur.
2. The Surrender Experiment: My Journey into Life’s Perfection karya Michael A. Singer
Pendekatan Michael A. Singer terhadap pertumbuhan tampak sederhana, tetapi diam-diam radikal, yakni apa yang terjadi jika Anda berhenti memaksa hidup mengikuti rencana Anda, dan mulai sepenuhnya menanggapi apa yang datang?
The Surrender Experiment menceritakan keputusan nyata Singer untuk mengatakan 'ya' pada peluang dan tantangan tanpa perlawanan, membiarkan hidupnya berkembang dengan cara yang tak pernah ia rancang.
Ini bukan manifesto spiritual yang abstrak, melainkan kisah yang membumi, melintasi dunia bisnis, kepemimpinan, relasi, dan disiplin batin.
Buku ini mengajak pembaca menelaah berapa banyak energi yang terkuras untuk mengendalikan hasil dan mempertahankan identitas.
Nilainya bukan pada ajakan meniru, tetapi pada provokasi reflektif, mungkinkah kepercayaan, pada waktu tertentu, lebih kuat daripada usaha keras? Bagi mereka yang terjebak antara ambisi dan kelelahan, buku ini menawarkan alternatif yang patut dipertimbangkan.
Baca Juga: 8 Buku Karya Penulis Perempuan yang Bisa Mengubah Cara Pandang Anda di 2026