3. Offline Humans karya Natalie Alzate
Hampir semua orang menyadari bahwa terlalu banyak waktu dihabiskan di depan layar. Namun, persoalan yang lebih sulit muncul ketika ponsel sudah diletakkan, yakni bagaimana sebenarnya kita ingin menjalani waktu yang tersisa?
Offline Humans karya Natalie Alzate mengajak pembaca membangun kembali kehidupan di luar dunia digital. Melalui jurnal, latihan refleksi, dan berbagai aktivitas praktis, buku ini menawarkan cara untuk mengurangi ketergantungan terhadap teknologi sekaligus menciptakan pengalaman dunia nyata yang lebih bermakna.
Menariknya, Alzate sendiri memahami dunia digital dari dalam sebagai seorang kreator dengan banyak pengikut daring.
Kontradiksi tersebut justru membuat gagasan dalam bukunya menarik, yaitu memahami daya tarik internet secara mendalam dapat menjadi langkah awal untuk menentukan kapan kita perlu benar-benar terhubung dan kapan harus memilih untuk keluar dari dunia maya.
4. The Courage Gap karya Margie Warrell
Ketakutan tidak selalu terlihat seperti rasa takut. Dalam kehidupan sehari-hari, ketakutan bisa muncul sebagai kebiasaan menunda, perfeksionisme, terlalu banyak mempersiapkan diri, atau terus menunggu waktu yang dianggap tepat.
Dalam The Courage Gap, Margie Warrell menyebut jarak antara mengetahui apa yang ingin dilakukan dan benar-benar melakukannya sebagai ‘kesenjangan keberanian’.
Buku ini membahas berbagai hambatan yang membuat seseorang sulit mengambil langkah, termasuk ketakutan akan kegagalan, penolakan, impostor syndrome, dan keraguan terhadap kemampuan diri sendiri. Dengan mengacu pada psikologi dan penelitian perilaku, Warrell menunjukkan bahwa keberanian bukan semata-mata sifat bawaan.
Keberanian dapat dilatih. Seseorang tidak harus menunggu rasa takut menghilang sebelum bertindak. Justru, keberanian sering kali terbentuk ketika seseorang belajar bergerak meskipun rasa takut masih ada.
5. Beyond the Pain karya Madhur-Nain Webster
Banyak buku pengembangan diri berbicara tentang pencapaian, produktivitas, dan menjadi versi diri yang lebih baik. Namun, tidak semuanya nyaman membahas sisi kehidupan yang lebih menyakitkan seperti patah hati, kehilangan, duka, dan kekecewaan.
Beyond the Pain karya Madhur-Nain Webster mengambil pendekatan yang berbeda dengan mengajak pembaca menghadapi rasa sakit emosional melalui mindfulness, refleksi, dan latihan yang terstruktur.
Buku ini mendorong pembaca untuk mengubah cara memandang pengalaman yang telah terjadi. Rasa sakit tidak selalu harus dihapuskan,terkadang, kita perlu memahaminya agar dapat melanjutkan hidup dengan perspektif yang berbeda.
Baca Juga: 10 Buku Wajib Dibaca agar Karier Melesat dan Hidup Lebih Sukses