Growthmates, gerakan feminisme tidak lahir dari satu suara saja, melainkan dari beragam pengalaman, gagasan, dan perjuangan lintas generasi.
Karena itu, membaca menjadi salah satu cara terbaik untuk memahami bagaimana perempuan di berbagai belahan dunia menghadapi ketidaksetaraan dan bagaimana mereka melawannya.
Dan dikutip dari Times Now News, Selasa (24/3/2026), deretan buku di bawah ini menghadirkan 10 buku penting yang tidak hanya berpengaruh secara intelektual, tetapi juga menyentuh secara emosional.
Dari esai tajam hingga novel yang membekas, karya-karya ini membuka ruang refleksi tentang identitas, kebebasan, solidaritas, dan perjuangan menuju keadilan gender. Kesemua buku ini cocok dijadikan bacaan reflektif, terutama dalam momentum seperti Hari Perempuan Internasional.
1. The Second Sex karya Simone de Beauvoir
Karya klasik ini menjadi fondasi pemikiran feminisme modern. Simone de Beauvoir mengupas bagaimana perempuan secara historis diposisikan sebagai 'the Other' dalam masyarakat patriarkal.
Dengan pendekatan filsafat dan sosial, buku ini mengajak pembaca memahami konstruksi gender serta bagaimana perempuan dapat merebut kembali otonomi dirinya.
2. We Should All Be Feminists karya Chimamanda Ngozi Adichie
Diadaptasi dari pidato TED yang viral, esai ini menghadirkan feminisme dalam bahasa yang sederhana, hangat, dan relevan.
Chimamanda Ngozi Adichie berbagi pengalaman pribadinya tentang bias gender dan mengajak semua orang baik perempuan maupun laki-laki, untuk melihat feminisme sebagai gerakan yang inklusif dan penting bagi semua.
3. The Handmaid's Tale karya Margaret Atwood
Melalui kisah distopia yang mencekam, Margaret Atwood menggambarkan dunia di mana tubuh perempuan dikontrol oleh negara.
Tokoh Offred menjadi saksi bagaimana hak-hak dasar dapat dirampas secara sistematis. Novel ini terasa semakin relevan di tengah perdebatan global tentang kebebasan tubuh dan hak reproduksi.
4. Bad Feminist karya Roxane Gay
Dalam kumpulan esai yang jujur dan tajam ini, Roxane Gay meruntuhkan mitos bahwa feminis harus selalu 'sempurna'.
Ia mengangkat isu budaya pop, ras, politik, dan identitas dengan gaya yang personal dan reflektif. Buku ini terasa dekat karena merangkul kontradiksi sebagai bagian dari menjadi manusia.
5. The Color Purple karya Alice Walker
Novel pemenang Pulitzer ini mengisahkan perjalanan hidup Celie, perempuan Afrika-Amerika yang bertahan dari kekerasan dan penindasan.
Melalui narasi yang intim, Alice Walker menunjukkan bagaimana persaudaraan perempuan dan kekuatan batin mampu membawa penyembuhan dan kebebasan.
Baca Juga: 10 Buku Inspiratif tentang Perempuan yang Menulis Ulang Kisah Hidup Mereka Sendiri
6. Men Explain Things to Me karya Rebecca Solnit
Buku ini menjadi pemantik diskusi global tentang fenomena 'mansplaining'. Rebecca Solnit dengan cerdas mengurai bagaimana perempuan kerap diremehkan dalam percakapan sehari-hari, dan mengaitkannya dengan struktur kekuasaan yang lebih luas.
Esai-esainya membuka mata tentang ketidaksetaraan yang sering dianggap sepele.
7. I Am Malala karya Malala Yousafzai
Memoar inspiratif ini menceritakan perjuangan Malala Yousafzai dalam memperjuangkan hak pendidikan bagi anak perempuan.
Dari Lembah Swat hingga panggung dunia, kisahnya adalah bukti nyata bahwa keberanian satu suara dapat menggerakkan perubahan global.
8. Girl, Woman, Other karya Bernardine Evaristo
Novel pemenang Booker Prize ini menghadirkan dua belas karakter dengan latar belakang beragam.
Bernardine Evaristo mengeksplorasi identitas, ras, gender, dan relasi antargenerasi dengan gaya penceritaan yang unik. Buku ini menegaskan bahwa pengalaman perempuan tidak tunggal, melainkan berlapis dan saling terhubung.
9. A Room of One’s Own karya Virginia Woolf
Melalui esai klasik ini, Virginia Woolf menegaskan pentingnya kemandirian finansial dan ruang pribadi bagi perempuan untuk berkarya.
Dengan gaya yang elegan dan reflektif, ia mempertanyakan mengapa suara perempuan lama terpinggirkan dalam dunia sastra dan bagaimana hal itu bisa diubah.
10. The Moment of Lift karya Melinda French Gates
Melinda French Gates mengajak pembaca melihat bagaimana pemberdayaan perempuan berdampak langsung pada kemajuan sosial dan ekonomi.
Berangkat dari pengalaman filantropinya, ia menyajikan kisah nyata perempuan di berbagai negara yang berjuang untuk akses pendidikan, kesehatan, dan kemandirian.
Baca Juga: 5 Penulis Perempuan yang 'Meramalkan' Krisis Dunia Melalui Buku Mereka