Selain pasar kreatif, WCCE Weekland menghadirkan penampilan musik, hiburan, dan ruang percakapan publik bertajuk Secangkir Kopi. Program ini mempertemukan masyarakat dengan sejumlah figur dari berbagai latar belakang, termasuk Irene Umar, Ferry Irwandi, Abigail Limuria, dan Cania Citta.
Melalui diskusi yang dikemas secara santai, pengunjung diajak bertukar pandangan mengenai kreativitas, industri, dan peran komunitas dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif.
Panggung hiburan turut diramaikan oleh SEEN, MARBLES, Moluccan Soul, serta sejumlah musisi dan penampil lainnya. Perpaduan musik, diskusi, kuliner, dan pasar kreatif dirancang untuk menjadikan ekonomi kreatif lebih dekat dengan masyarakat, sekaligus memberikan ruang bagi berbagai komunitas untuk saling mengenal dan berkolaborasi.
WCCE Weekland merupakan bagian dari Creativillage yang berlangsung pada 21–25 Oktober 2026 di sejumlah titik di kawasan SCBD. Selain SCBD Park, kegiatan juga hadir di Ashta District 8 dan MGP Space dengan fokus aktivitas yang berbeda.
Village One di Ashta District 8 menampilkan berbagai praktik kreatif, mulai dari arsitektur, desain interior, seni, desain grafis, fashion, dan literatur hingga pameran. Sementara itu, Village Two di MGP Space berfokus pada komunitas, gim, kekayaan intelektual atau intellectual property (IP), teknologi, dan pengalaman interaktif.
Pengunjung dapat menjelajahi berbagai demonstrasi, permainan, serta aktivitas komunitas yang menggambarkan perkembangan industri kreatif berbasis teknologi.
Penyebaran kegiatan di sejumlah lokasi juga membawa pesan tersendiri. Irene mengatakan, penyelenggara ingin memperlihatkan pengalaman menjelajahi ruang-ruang kreatif Jakarta dengan berjalan kaki, sekaligus menunjukkan keterhubungan berbagai titik aktivitas dalam satu kawasan perkotaan.
“Kenapa kita bikin conference ini di banyak tempat? Karena kita pengen menunjukkan kepada dunia bahwa Jakarta is a walkable city. Map kita keren, dan itu merupakan sesuatu yang dibanggakan,” katanya.
Di tingkat internasional, WCCE 2026 mempertemukan sekitar 80 delegasi dari berbagai negara. Forum ini menghadirkan agenda berupa pleno, pertemuan menteri, dialog global, pertemuan bilateral, hingga business matchmaking. Berbagai agenda tersebut diharapkan dapat mempertemukan pemerintah, pelaku industri, dan calon mitra bisnis untuk membuka peluang kerja sama, investasi, pengembangan usaha, serta akses ke pasar baru.
Kehadiran delegasi internasional juga menjadi peluang untuk memperkenalkan potensi ekonomi kreatif Indonesia secara lebih luas. Sementara konferensi menyediakan ruang bagi pertukaran gagasan dan pembahasan kebijakan, Creativillage memberikan gambaran langsung mengenai keberagaman produk, komunitas, dan praktik kreatif yang berkembang di Tanah Air.
Rangkaian WCCE 2026 yang beriringan dengan Hari Ekonomi Kreatif Nasional pada 24 Oktober turut memperkuat semangat OktoberKreasi. Momentum ini dimanfaatkan untuk menghidupkan ruang-ruang kreatif, memperkenalkan karya lokal, dan memperluas jejaring antarpelaku industri dari berbagai daerah.
Bagi Irene, ekonomi kreatif memiliki kekuatan untuk mempertemukan masyarakat dari latar belakang yang berbeda melalui karya, gagasan, dan pengalaman bersama. Karena itu, penyelenggaraan WCCE tidak hanya diarahkan untuk mendorong pertumbuhan industri, tetapi juga membangun hubungan yang lebih inklusif lintas budaya, suku, agama, dan negara.
“Harapan kita tentunya World Conference on Creative Economy, kontes dunia ini, bisa menjadi sebuah ajang untuk mempersatukan rasa sama manusia tanpa mengenal ras, suku, agama, nasionalitas, untuk menjadi satu,” ucapnya.
Semangat tersebut direncanakan berlanjut hingga penutupan rangkaian kegiatan, yang akan diisi dengan konser kecil dan doa bersama untuk Indonesia, termasuk bagi masyarakat Kalimantan.
Baca Juga: Pasar Wiwitan SCBD Kembali Hadir, Perkuat Ruang Kreatif dan Produk Lokal di Jakarta