Indonesia memperkuat posisinya dalam peta ekonomi kreatif global melalui penyelenggaraan The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 pada 21–23 Oktober 2026 di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta.
Mengusung tema ‘Inclusively Creative: Collective Continuity’, forum internasional ini tidak hanya mempertemukan pemangku kepentingan ekonomi kreatif dari berbagai negara, tetapi juga membuka ruang bagi pelaku usaha lokal untuk memperluas jaringan, memperkenalkan karya, dan menjangkau pasar yang lebih luas.
Upaya tersebut diterjemahkan melalui Creativillage WCCE 2026, rangkaian kegiatan yang membawa semangat konferensi ke ruang publik. Salah satu agenda utamanya adalah WCCE Weekland yang berlangsung pada 24–25 Oktober 2026 di SCBD Park, Jakarta, bertepatan dengan perayaan Hari Ekonomi Kreatif Nasional.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, mengungkapkan, WCCE tidak seharusnya berhenti sebagai forum diskusi para pembuat kebijakan dan pelaku industri. Lebih dari itu, kegiatan ini perlu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat, termasuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjadi bagian penting dari ekosistem ekonomi kreatif Indonesia.
Salah satu wujudnya adalah kehadiran 88 tenant terkurasi dari berbagai daerah di Indonesia. Para pelaku usaha tersebut memperoleh kesempatan untuk memamerkan sekaligus memasarkan produk mereka kepada pengunjung, termasuk delegasi internasional yang hadir dalam rangkaian WCCE.
“Program weekend ini sangat spesial juga karena ada 88 tenants yang sudah bergabung untuk memperlihatkan produk mereka ada apa saja. Ini bukan hanya ada yang di Jakarta, tapi di seluruh Indonesia. Kita buka open call dan kita kurasi,” ungkap Irene, saat ditemui awak media di rangkaian acara WCCE 2026, yang digelar di SCBD Weekland, Jakarta, Sabtu (24/10/2026).
Menurut Irene, proses kurasi menjadi bagian penting untuk memastikan produk yang ditampilkan dapat memperlihatkan keragaman potensi ekonomi kreatif Indonesia. Dari pendaftar yang mengikuti mekanisme open call, panitia memilih peserta yang dinilai sesuai untuk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
Pemerintah juga ingin memastikan bahwa kehadiran pelaku usaha tidak sekadar menjadi bagian dari pameran. Mereka harus memiliki ruang untuk berjualan, berinteraksi dengan konsumen, dan memperkenalkan potensi bisnis yang selama ini dikembangkan.
“Kemudian kita memberikan lapangan di sini, supaya teman-teman bisa jualan. Teman-teman bisa melihat ada apa saja potensi ekonomi kreatif di Indonesia,” katanya.
Di balik kesempatan memasarkan produk, Creativillage juga menjadi ruang untuk memperkenalkan nilai budaya dan cerita yang melekat pada karya lokal. Irene menilai, produk ekonomi kreatif tidak cukup dipahami hanya dari bentuk, fungsi, atau harga, sebab banyak di antaranya memiliki sejarah dan filosofi yang menjadi bagian dari identitas masyarakat.
Ia mencontohkan kain lurik, salah satu produk tekstil tradisional yang menyimpan makna lebih dalam daripada sekadar motif dan bahan. Irene mengaku baru memahami kekayaan makna kain tersebut setelah berdiskusi dengan seseorang bernama Prasojo.
“Contohnya lurik, ada yang tahu enggak di sini lurik itu maknanya apa? Jujur saya aja enggak tahu sampai ketemu sama Prasojo. Baru saya belajar ternyata lurik itu begitu mendalam,” imbuhnya.
Pengalaman tersebut memperlihatkan pentingnya mempertemukan konsumen secara langsung dengan para kreator dan pengrajin. Melalui interaksi itu, masyarakat dapat memahami proses, nilai, serta cerita di balik produk yang mereka gunakan. Pada saat yang sama, pelaku usaha memiliki kesempatan untuk membangun kedekatan dengan konsumen dan memperkuat nilai produk yang ditawarkan.
“Jadi bukan hanya semua kain yang kita beli adalah sebuah cerita, sebuah livelihood dari teman-teman yang ada di luar,” imbuh Irene.
Baca Juga: WCCE 2026 Buka Peluang Investasi dan Pasar Global bagi Pelaku Ekonomi Kreatif Indonesia