Founder Triv Group, Gabriel Rey, mengungkapkan keyakinannya terhadap prospek bisnis PT Multi Medika Internasional Tbk (MMIX) dengan menambah kepemilikan saham perusahaan sebanyak 530.000 lot.

Triv Group menyatakan telah menginvestasikan dana sekitar Rp80 miliar untuk mendukung pengembangan bisnis MMIX, termasuk ekspansi di industri produk higienitas.

Gabriel mengatakan, keputusan investasi tersebut didasarkan pada kombinasi fundamental bisnis, potensi pertumbuhan pasar, serta komitmen manajemen dalam mengembangkan perusahaan.

Menurutnya, investasi tidak hanya bergantung pada prospek industri, tetapi juga pada kualitas orang-orang yang menjalankan bisnis.

“Ketika kita berinvestasi di sebuah perusahaan, yang pertama kita perhatikan adalah orangnya dan manajemennya. Setelah itu, baru kita melihat bagaimana perusahaannya,” ungkap Gabriel, saat press conference di Pabrik PT Multi Nice Paper Indonesia, Legok, Kab. Tangerang, Banten, Kamis (15/10/2026).

Ia menilai, manajemen MMIX memiliki visi dan komitmen untuk memperbesar bisnis. Keyakinan tersebut menjadi salah satu pertimbangan Triv Group untuk menambah kepemilikan saham dan mendukung agenda ekspansi perusahaan.

Gabriel menegaskan, investasi Triv Group di MMIX ditujukan untuk jangka panjang. Selama fundamental bisnis tetap terjaga dan perusahaan mampu menjalankan strategi pertumbuhannya, ia memilih mempertahankan investasinya.

“Selama fundamental bisnisnya tidak berubah, seharusnya saya tidak take profit. Saya akan menjadikannya sebagai investasi jangka panjang. Yang penting, bisnisnya bertumbuh dan strategi pengembangan perusahaan berjalan,” katanya.

Gabriel pun melihat, industri produk higienitas Indonesia memiliki peluang pertumbuhan yang menarik, didukung besarnya populasi dan kebutuhan masyarakat terhadap produk sehari-hari seperti popok, masker, serta berbagai produk perawatan diri.

Menurutnya, salah satu keunggulan Multi Medika adalah upaya membangun kapasitas produksi di dalam negeri, sementara sebagian pemain industri masih bergantung pada produk impor.

Berdasarkan analisis yang disampaikan Gabriel, sekitar 79% kompetitor yang ditinjau masih mengandalkan impor. Kondisi tersebut dinilai membuka peluang bagi produsen lokal untuk bersaing melalui efisiensi biaya, pengendalian harga, dan penguatan rantai pasok.

“Dengan adanya pabrik lokal, biaya produksi bisa lebih terkendali. Selain itu, perusahaan juga tidak terlalu terpapar fluktuasi nilai tukar seperti pemain yang masih mengandalkan impor,” terangnya.

Gabriel juga menilai, faktor harga sangat penting dalam industri produk konsumen bergerak cepat atau fast-moving consumer goods (FMCG). Konsumen produk seperti popok cenderung sensitif terhadap perubahan harga sehingga efisiensi produksi menjadi salah satu faktor penentu daya saing.

Selain produksi lokal, ia menyoroti kekuatan jaringan distribusi MMIX yang telah menjangkau ritel modern seperti Indomaret dan Alfamart, serta pasar tradisional.

Menurut Gabriel, distribusi merupakan salah satu tantangan terbesar dalam bisnis produk konsumen. Produk yang berkualitas dan memiliki harga kompetitif tetap membutuhkan akses pasar yang luas agar dapat menjangkau konsumen secara efektif.

Baca Juga: MNPI Target Produksi 1,8 Miliar Popok per Tahun, Bidik Pasar Indonesia