Lebih lanjut, Dr. Yulinajuga mengingatkan bahwa kebiasaan berdiam diri terlalu lama di tempat tidur, terutama jika disertai perubahan perilaku dan penurunan fungsi sehari-hari, perlu mendapat perhatian.

Dalam kondisi tertentu, perilaku tersebut dapat berkaitan dengan kelelahan emosional atau burnout, kecemasan berlebih, hingga depresi. Meski demikian, bed rotting saja tidak dapat dijadikan patokan untuk menentukan apakah seseorang mengalami gangguan kesehatan mental.

Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, gangguan tidur, menarik diri dari lingkungan sosial, serta menurunnya kemampuan menjalankan tanggung jawab akademik atau pekerjaan.

Apabila kondisi tersebut berlangsung terus-menerus dan mengganggu kehidupan sehari-hari, mencari bantuan profesional dapat menjadi langkah yang tepat.

Untuk menjaga agar waktu istirahat tetap sehat, Dr. Yulina menekankan pentingnya membangun kebiasaan beristirahat secara sadar dan terukur.

Menurutnya, istirahat bukan sekadar berhenti beraktivitas, tetapi juga harus memberikan kesempatan bagi tubuh dan pikiran untuk memulihkan energi.

“Istirahat yang sehat bukan sekadar tidak melakukan apa-apa, tetapi dilakukan dengan kesadaran, memiliki batas waktu, dan benar-benar memulihkan energi,” tuturnya.

Dr. Yulinapun menyarankan remaja dan Gen Z untuk menetapkan batas waktu istirahat, mengurangi penggunaan gawai ketika berada di tempat tidur, serta menyelingi waktu santai dengan aktivitas ringan.

Berjalan kaki, melakukan peregangan, atau menikmati kegiatan sederhana di luar kamar dapat menjadi alternatif agar tubuh kembali aktif.

“Self-care yang sehat bukan tentang berapa lama kita beristirahat, tetapi apakah kita tetap memegang kendali atas pilihan kita,” pungkas Dr. Yulina.

Baca Juga: Tren 'Man in Finance' Bikin Pria Mapan Jadi Idaman, Benarkah Gaji Besar Bikin Hubungan Bahagia?