Dari sisi teknis, Aktor, Darius Sinathrya, mengatakan The Doll Ghawiah diproduksi menggunakan format 4K. Materi gambar kemudian melewati proses penyempurnaan sebelum dinilai memenuhi standar teknis untuk penayangan IMAX.

“Secara teknis, kita memang syuting menggunakan format 4K. Setelah melalui proses pembersihan footage atau clean-up dan penyempurnaan materi secara menyeluruh, ternyata hasilnya sangat layak dan memenuhi standar teknis IMAX,” ujar Darius.

Menurut Darius, penayangan dalam format tersebut memperkuat pengalaman sinematik melalui ketajaman gambar dan dentuman suara. Kualitas audiovisual itu menjadi elemen penting untuk mendukung adegan yang mengandalkan kejutan, suasana mencekam, dan ketegangan.

Sementara itu, Aktris, Sara Wijayanto, mengaku sempat terkejut ketika mengetahui film yang dibintanginya akan diputar di IMAX. Ia bahkan membayangkan wajah para pemain akan terlihat jauh lebih besar di layar.

“Kaget banget pas dikasih tahu, ‘Hah, di IMAX?! Oh my God!’ Terus sempat kepikiran, ‘Hah, muka kita jadi kelihatan gede banget dong nanti!’ Bikin insecure ya,” ujar Sara sambil tertawa.

Dalam film ini, Sara memerankan Laras, seorang pegawai restoran yang membantu keluarga Arya menelusuri kejadian misterius yang mereka alami. Keterlibatan Laras menjadi bagian penting dalam upaya keluarga tersebut mencari jawaban atas teror yang terus bermunculan.

Sebagai informasi, The Doll Ghawiah merupakan prekuel yang mengungkap asal mula kutukan dalam semesta The Doll. Ceritanya mengambil latar 1988 dan berpusat pada keluarga Arya (Darius Sinathrya) dan Evi (Titi Kamal), yang memutuskan pindah dari Jakarta ke kawasan Babakan Siliwangi, Bandung, bersama kedua anak mereka, Gita (Aisyah Aqilah) dan Nala (Laura Moane).

Keputusan pindah tersebut diambil setelah keluarga Arya mengalami kebangkrutan dan berharap dapat memulai kehidupan baru. Namun, situasi berubah ketika Nala menerima boneka misterius bernama Ghawiah dari seorang anak kecil bernama Uci, yang diperankan Fara Shakila.

Setelah boneka tersebut hadir di tengah keluarga, berbagai kejadian mistis mulai terjadi. Upaya mereka mencari penjelasan kemudian mengarah pada tragedi masa lalu yang berkaitan dengan Uci dan menjadi kunci untuk mengungkap asal mula teror.

Rocky Soraya mengaku mempercayakan penyutradaraan film ini kepada Guntur karena menginginkan pendekatan cerita yang berbeda dari film-film sebelumnya dalam waralaba tersebut.

“Menurut saya, Pak Guntur kayaknya sudah melebihi saya, menjadi sutradara. Dia lebih bagus dari saya, jadi menurut saya dia mungkin bisa membuat sisi-sisi lebih menarik dan lebih beda dari sebelumnya,” ucap Rocky.

Guntur menerjemahkan pendekatan tersebut melalui pembangunan atmosfer kelam secara bertahap, sehingga ketegangan mulai terasa bahkan sebelum sosok Ghawiah diperlihatkan secara jelas. Intensitas cerita kemudian meningkat menjelang akhir film, termasuk melalui adegan berskala besar yang melibatkan pembangunan set rumah kaca seluas lapangan tenis.

Perpaduan horor supranatural, thriller, dan aksi menjadi fondasi cerita The Doll Ghawiah. Dengan dukungan efek praktis, teknologi animatronik, serta kesempatan tayang di 18 layar IMAX, Hitmaker Studios berupaya menghadirkan teror yang lebih imersif sekaligus memperluas pengalaman menonton film horor Indonesia.

Jadi, apakah Anda sudah siap menyaksikan teror mencekam Ghawiah di layar lebar IMAX pada 29 Oktober mendatang?

Baca Juga: Film 5cm: Revolusi Hati Siap Tayang, Kisahkan Zafran Muda dan Petualangannya, Seperti Apa?