Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) periode 2011–2014, Dahlan Iskan sempat berada dalam masa-masa sulit dalam bisnisnya. Seperti yang dialami kebanyakan pengusaha ketika itu Dahlan Iskan juga nyaris tumbang dihantam badai krisis moneter 1998.
Dahlan Iskan ketika itu telah mendirikan sejumlah unit usaha yang semula tampak baik dan menjanjikan secara bisnis, namun krisis moneter yang datang di luar perkiraannya membuatnya terhimpit dari berbagai sisi.
Baca Juga: Dahlan Iskan: Bisnis Bukan Hanya Soal Bakat Alami, Itu Bisa Ditularkan
Di tengah tekanan hebat itu, Dahlan Iskan dipaksa putar otak, setidaknya untuk menyelamatkan sebagian usahanya yang sudah dengan susah payah ia rintis. Jangan sampai seluruhnya runtuh dan ditenggelamkan badai krisis yang kejam itu.
“Apa kejatuhan saya yang paling berarti? Kebetulan ada krisis tahun 98-99. Itu luar biasa. Saya sudah mencoba masuk real estate, kita jual semua,” kenangnya sebagaimana dilansir Olenka.id Rabu (28/1/2026).
Aputansi Anak Usaha
Setelah mencoba berbagai jalan keluar yang berujung buntu, Dahlan Iskan memilih nekat, ini adalah salah satu cara ekstrem berisiko tinggi. Ia mengamputasi sejumlah anak usahanya supaya unit usaha yang lain bisa bertahan. Sekalipun pincang ia jatuh tak terlalu jauh.
Salah satu anak usaha yang ditumbalkan Dahlan Iskan adalah Magnet, sebuah perusahaan internet provider yang didirikan beberapa tahun sebelum krisis moneter menghantam Indonesia.
“Cukup banyak (investasi) saya habiskan di situ. Dan gagal,” ucapnya.
Dahlan Iskan, bukan tipe pengusaha yang grusa grusu dalam mengambil kebijakan. Keputusan mengaputansi sejumlah unit usaha termasuk menjual Magnet telah ia hitung dengan bijaksana.
Salah satu alasan melepas Magnet dengan beban kerugian yang lumayan besar karena perusahaan tersebut memang sukar berkembang di era itu, mayoritas masyarakat Indonesia masih belum familiar dengan penggunaan internet, ia belum menjadi kebutuhan utama seperti sekarang.
Dahlan Iskan berkesimpulan unit usaha yang satu ini melampaui zamannya yang membuatnya ia ta laku di pasaran. Dengan berbagai pertimbangan ia kemudian me melepas Magnet di tengah badai krisis.
“Sulit cari orang yang mau menggunakan internet. Jangan Anda bayangkan sekarang. Sekarang, sehingga kesimpulan saya, bisnis yang terlalu cepat juga gagal,” ujarnya.
Penyesalan dan Kebangkitan
Pelepasan Magnet menjadi sebuah penyesalan terbesar Dahlan Iskan di kemudian hari kendati keputusan itu mampu menopang unit usahanya yang lain.
Kalau saja ketika itu Dahlan Iskan memutuskan melepas unit usaha lain, mungkin saja Magnet sudah menjadi perusahaan penyedia layanan internet terkemuka di tengah perkembangan pesat dunia digital saat ini yang serba membutuhkan internet.
Baca Juga: Dahlan Iskan Bicara Soal Mentalitas Sungguh-Sungguh
“Apakah nggak menyesal? Karena sekarang ternyata internet begini merajai. Ya menyesal,” kata Dahlan Iskan mengakui penyesalannya.
Menyesal bukan berarti harus larut dalam kesedihan seraya menyalahkan diri sendiri, tidak.
Dahlan Iskan adalah pengusaha bermental baja, ia ditempuh pengalaman panjang yang bikin dirinya mampu berdiri tegak sampai sekarang. Jatuh bangun dalam dunia usaha adalah hal wajar dan penyesalan adalah manusiawi, yang terpenting adalah mengetahui cara untuk bangkit.
“Tapi saya nggak pernah menyesali sampai nangis-nangis. Saya cepat move on. Jadi move on,” tegasnya.
Bagi Dahlan Iskan move on adalah tanda optimistis, tanda seseorang sudah siap untuk bangkit dan siap memulai pertarungan baru, kegagalan adalah guru terbaik ia menjadi pengingat supaya kegagalan yang sama tak terulang lagi di kemudian hari.
“Siapapun orang yang optimistis, jangan terlalu menyesali sesuatu terlalu lama. Move on, move on, move on, move on. Termasuk yang jatuh tadi,” pungkasnya.