Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) periode 2011–2014, Dahlan Iskan turut menyoroti fenomena Brain drain yang marak terjadi di sejumlah negara berkembang termasuk Indonesia. 

Fenomena ini merupakan salah satu aksi migrasi sumber daya manusia (SDM) berpendidikan tinggi, profesional, atau intelektual dari negara berkembang ke negara maju demi mendapatkan upah, fasilitas riset, dan kualitas hidup yang lebih baik. 

Baca Juga: Kisah Dahlan Iskan Survive dari Kanker Hati Stadium IV

Banyak pihak khawatir dengan fenomena tersebut, namun Dahlan Iskan justru berpandangan sebaliknya. 

Ini bukan ancaman serius bagi kelangsungan masa depan sebuah negara, sebab suatu bangsa senantiasa melahirkan talenta-talenta baru yang tak kalah unggul yang bisa menggantikan SDM yang sudah terlanjur minggat. 

“Saya berbeda pendapat. Saya berprinsip biar saja orang-orang pintar itu berada di luar negeri karena kita masih punya banyak penggantinya,” kata Dahlan Iskan dalam sebuah kesempatan dilansir Olenka.id Rabu (4/3/2026). 

Dahlan Iskan melanjutkan, selama negara mampu melahirkan generasi unggul serta dukungan koneksi dengan dunia luar yang mumpuni, fenomena minggat ramai-ramai itu tak memberi efek apapun di masa depan. 

Negara ini bakal terus tumbuh dan berkembang kendati anak-anak bangsa yang unggul angkat kaki keluar negeri, sebab di setiap masa bakal ada generasi pengganti yang jauh lebih unggul yang bisa mengelola seluruh kekayaan negeri secara mandiri.

“Biarlah kita mempunyai yang disebut network. Kekayaan network itu tidak kalah penting dengan kekayaan dalam bentuk aset, tanah maupun uang.

Dalam peradaban yang super modern sekarang ini, sebuah bangsa tak selamanya menggantungkan nasib pada SDM unggul, kemampuan mumpuni akan menjadi tak berguna dalam ketiadaan koneksi dengan dunia luar. 

“Karena dunia modern itu ditentukan oleh network. Saya menyekolahkan anak saya ke Amerika, terus terang bukan supaya pintar, tetapi supaya punya network,” ujarnya. 

Bagi Dahlan Iskan, fenomena brain drain hanyalah sebuah upaya kecil menguras otak Indonesia, namun hal ini tak bakal melumpuhkan  negara ini, sebab Ibu Pertiwi  tak henti melahirkan manusia-manusia hebat. 

“Bagi saya, itu ada yang disebut brindrin, artinya pengurasan otak Indonesia kalau terlalu banyak orang Indonesia pintar pergi ke luar negeri,” ucapnya. 

Pengorbanan Karier Wanita Hebat

Bagi Dahlan Iskan brain drain terbesar di Indonesia bukan soal minggatnya orang-orang hebat dari negeri ini, tetapi yang lebih besar dan berbahaya adalah fenomena perempuan-perempuan cerdas yang merelakan kariernya karena menikah. Ini adalah definisi brain drain yang sesungguhnya. 

Baca Juga: Dahlan Iskan: Bisnis Bukan Hanya Soal Bakat Alami, Itu Bisa Ditularkan

“Tetapi menurut pendapat saya, brindrin yang terbesar itu justru terjadi karena banyaknya wanita pintar yang karirnya bagus tetapi harus berhenti bekerja karena kawin. Itu brindrin terbesar. Bukan orang-orang yang sekolah di luar negeri atau bekerja di luar negeri,” ujarnya. 

Di negara ini lanjut Dahlan Iskan,banyak wanita memilih melepas karier gemilangnya ketika mereka menikah, ada yang mencoba mempertahankannya tetapi banyak juga yang memilih menyerah ketika masuk pada fase kehamilan. 

Kondisi ini adalah gunung es yang hanya menungu waktu untuk meletus, maka dari itu Dahlan Iskan menyarankan supaya pemerintah membuat regulasi yang jelas untuk melindungi talenta-talenta unggul tersebut lewat peraturan pepanjangan cuti hamil dan melahirkan. 

Baginya cuti melahirkan yang hanya berdurasi tiga bulan terlampau singkat, sehingga banyak wanita hebat memilih mengorbankan kariernya.  

“Karena itu saya pernah punya pikiran, bagi wanita-wanita hebat yang karirnya bagus, jangan hanya diberi cuti tiga bulan, tapi diberi cuti dua tahun,” ucapnya. 

Perempuan cerdas yang memilih melepaskan kariernya bakal memasuki suatu  fase yang bikin mereka bimbang sendiri, itu terjadi ketika anak-anaknya mulai tumbuh besar, karier yang dulu ditumbalkan rasanya mustahil dikejar lagi. 

“Karena banyak wanita hebat yang setelah kawin dan hamil, kemudian punya anak, dia pilih berhenti karena demi anak. Dan itu baik. Dua tahun kemudian, ketika anaknya sudah berumur dua tahun, ibu-ibu ini gelisah,” katanya lagi. 

“Aduh anakku sudah besar, ini mau sibuk apa? Sudah gelisah, sudah pengen bekerja lagi. Tetapi tempatnya bekerja sudah hilang, sudah diambil orang. Seandainya waktu itu dia cuti dua tahun, maka mereka ini bisa balik lagi ke tempat berkarirnya, sehingga tidak terjadi kehilangan orang-orang yang berprestasi,” pungkasnya.