Selain muntah berulang, demam tinggi yang menetap, dan nyeri perut yang berat, adanya perdarahan pada saluran pencernaan juga menjadi kondisi yang membutuhkan perhatian medis. Begitu pula jika pasien mengalami kekurangan cairan atau dehidrasi.

“Atau kalau ada perdarahan usus, atau kalau ada kekurangan cairan di hidrasi, nah itu beberapa alasan yang memerlukan rawat inap. Jadi sekali lagi, tidak semua orang dengan penyakit typhus perlu rawat inap,” tegas Prof. Zubairi.

Dengan demikian, keputusan untuk menjalani rawat inap pada pasien demam tifoid perlu disesuaikan dengan kondisi dan tingkat keparahan penyakit, bukan semata-mata berdasarkan diagnosis tifoid itu sendiri.

Pasien dengan gejala ringan dapat menjalani perawatan di rumah sesuai arahan dokter, sementara gejala berat memerlukan evaluasi dan penanganan medis lebih lanjut.

Prof. Zubairi juga mengingatkan penggunaan istilah yang tepat. Dalam konteks penyakit yang dibahas, istilah medis yang digunakan adalah typhoid fever atau typhus abdominalis.

“Jadi setelah tifus itu, bisa supaya enggak keliru, kalau bahasanya yang benar adalah typhoid fever, atau typhus abdominalis, kalau yang hanya yang berat, yang perlu rawat inap,” pungkasnya.

Baca Juga: Kapan Demam Perlu Minum Paracetamol? Begini Penjelasan Dokter Ahli