Growthmates, demam tifoid atau tifus kerap dianggap sebagai penyakit yang selalu membutuhkan perawatan di rumah sakit.
Padahal, menurut Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Hematologi Onkologi Medik, Prof. Dr. Zubairi Djoerban, SpPD-KHOM, FINASIM, tidak semua pasien demam tifoid harus menjalani rawat inap.
Untuk kasus yang tergolong ringan, pasien umumnya masih dapat menjalani perawatan di rumah dengan mengikuti anjuran dokter.
Penanganannya antara lain berupa istirahat yang cukup, konsumsi antibiotik secara oral sesuai resep, menjaga asupan cairan, serta mengonsumsi makanan yang lebih lunak agar lebih mudah ditoleransi tubuh.
“Enggak. Jadi kalau yang ringan, yang enteng, cukup istirahat di rumah, minum antibiotik, minum artinya peroral ya, antibiotiknya tidak usah disuntik, tapi cukup diminum, kemudian menjaga minuman yang cukup, dan makanannya yang lunak. Itu sudah cukup, nanti beberapa hari juga kemudian akan sembuh,” ungkap Prof. Zubairii, dikutip dari laman Instagram pribadinya, Rabu (30/9/2026).
Namun, kondisi berbeda berlaku ketika demam tifoid sudah menunjukkan gejala yang lebih berat. Dalam situasi tersebut, pasien dapat membutuhkan pemantauan dan penanganan di rumah sakit.
Prof. Zubairi menjelaskan, salah satu tanda yang perlu diperhatikan adalah muntah yang terjadi berulang kali. Demam tinggi yang berlangsung selama beberapa hari dan tidak kunjung turun juga menjadi alasan untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.
“Nah, kalau berat, maka perlu rawat inap. Kapan disebut berat? Disebut berat misalnya muntah-muntah, berapa kali bulat balik muntah, atau misalnya panasnya sudah beberapa hari enggak turun-turun, masih 41 atau 40, ya rawat inap saja. Apalagi kalau sakit, sakit perut, sakit perut, sakit banget, ya sudah rawat inap,” jelasnya.
Baca Juga: Sering Merinding saat Takut? Ini Penjelasan Ilmiah dari Ahli Neurologi
Selain muntah berulang, demam tinggi yang menetap, dan nyeri perut yang berat, adanya perdarahan pada saluran pencernaan juga menjadi kondisi yang membutuhkan perhatian medis. Begitu pula jika pasien mengalami kekurangan cairan atau dehidrasi.
“Atau kalau ada perdarahan usus, atau kalau ada kekurangan cairan di hidrasi, nah itu beberapa alasan yang memerlukan rawat inap. Jadi sekali lagi, tidak semua orang dengan penyakit typhus perlu rawat inap,” tegas Prof. Zubairi.
Dengan demikian, keputusan untuk menjalani rawat inap pada pasien demam tifoid perlu disesuaikan dengan kondisi dan tingkat keparahan penyakit, bukan semata-mata berdasarkan diagnosis tifoid itu sendiri.
Pasien dengan gejala ringan dapat menjalani perawatan di rumah sesuai arahan dokter, sementara gejala berat memerlukan evaluasi dan penanganan medis lebih lanjut.
Prof. Zubairi juga mengingatkan penggunaan istilah yang tepat. Dalam konteks penyakit yang dibahas, istilah medis yang digunakan adalah typhoid fever atau typhus abdominalis.
“Jadi setelah tifus itu, bisa supaya enggak keliru, kalau bahasanya yang benar adalah typhoid fever, atau typhus abdominalis, kalau yang hanya yang berat, yang perlu rawat inap,” pungkasnya.
Baca Juga: Kapan Demam Perlu Minum Paracetamol? Begini Penjelasan Dokter Ahli