Di tengah tren penggunaan squishy sebagai teman untuk menenangkan diri, aktivitas sensorik berulang memang dapat membantu sebagian anak merasa lebih tenang. Meremas squishy, misalnya, bisa menjadi salah satu cara untuk mengalihkan perhatian dari situasi yang membuat mereka tertekan.
Meski demikian, mainan sensorik bukan solusi tunggal untuk mengatasi stres. Orang tua tetap perlu memastikan produk yang digunakan aman bagi anak serta membantu mereka menemukan cara lain untuk mengenali dan mengelola emosinya.
Salah satu kebiasaan yang bisa mulai dibangun di rumah adalah mengajak anak mengenali perasaan mereka. Anak dapat dibiasakan menyebutkan apakah sedang sedih, kecewa, takut, kesal, atau cemas. Dengan begitu, mereka memiliki ruang untuk memahami apa yang dirasakan dan belajar menyampaikannya kepada orang lain.
Ketika emosi terasa sulit dikendalikan, orang tua juga bisa mengajarkan teknik sederhana, seperti menarik napas perlahan atau menghitung satu hingga sepuluh. Rutinitas tidur yang cukup, asupan nutrisi yang baik, serta waktu bermain yang seimbang turut menjadi bagian penting dalam menjaga kesejahteraan anak.
Tak kalah penting, anak belajar banyak dari cara orang tua menghadapi masalah. Keteladanan dalam mengelola emosi dan menyelesaikan konflik secara sehat dapat membantu anak memahami bahwa perasaan tidak nyaman merupakan hal yang wajar dan bisa dihadapi dengan cara yang tepat.
Komunikasi terbuka dan waktu berkualitas bersama keluarga juga dapat menciptakan rasa aman bagi anak untuk berbagi cerita, termasuk ketika menghadapi persoalan yang mungkin tampak sederhana bagi orang dewasa, tetapi terasa berat bagi mereka.
“Setiap anak memiliki respons yang berbeda terhadap tekanan. Karena itu, orang tua perlu lebih peka terhadap perubahan perilaku anak sekaligus menciptakan lingkungan keluarga yang memberikan rasa aman, penerimaan, dan dukungan emosional,” pungkasnya.
Baca Juga: Jangan Salah Respons, Ini 5 Perbedaan Tantrum, Meltdown, dan Overload pada Anak