Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla turut prihatin atas tragedi siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang memilih mengakhiri hidup lantaran orang tuanya tak bisa membelikannya kelengkapan sekolah berupa buku dan pulpen seharga Rp10 ribu.
Jusuf Kalla mengatakan, peristiwa mengenaskan itu mengonfirmasi bahwa kemiskinan ekstrem masih menjadi masalah serius di negara ini, pengentasan kemiskinan kata dia menjadi salah satu masalah yang wajib dituntaskan pemerintah.
Baca Juga: Tragedi Siswa SD di Ngada: Alarm Keras Kegagalan Negara Melindungi Anak-anak Kurang Mampu
"Itulah, sudah banyak dibicarakan, bahwa di Indonesia ini kemiskinan harus kita atasi, karena (kasus siswa SD bunuh diri) itu akibat kemiskinan," kata Jusuf Kalla dilansir Senin (9/2/2026).
Jusuf Kalla juga menyerukan kepada pemerintah agar semakin serius dalam memberantas kemiskinan di Indonesia. Meski tidak banyak memberikan komentar lebih lanjut, ia mengakui bahwa persoalan kemiskinan selalu menjadi perhatian dan pembahasan pemerintah.
Kasus ini, menurut Jusuf Kalla, harus menjadi pengingat bahwa upaya penanggulangan kemiskinan masih perlu diperkuat agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
Pendidikan Gratis Bukan Sekadar Pembesasan Biaya Sekolah
Tak hanya Jusuf Kalla, Ketua DPR RI Puan Maharani juga turut menyoroti tragedi ini. Dia mengatakan peristiwa menjadi alarm keras gagalnya pemerintah melindungi anak-anak kurang mampu. Jelas ini ironi sebab di satu sisi pemerintah tengah mengebut sekolah gratis, namun di sisi lain ada anak 10 tahun tewas mengenaskan karena keterbatasan ekonomi orang tuanya.
“Kasus kematian anak di Kabupaten Ngada ini merupakan duka mendalam dan harus menjadi pembelajaran serius bagi kita semua,” ujar Puan
“Pendidikan gratis tidak boleh berhenti pada pembebasan biaya sekolah. Negara juga harus menjamin pemenuhan kebutuhan penunjang pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin,” tegasnya.
Puan menekankan pentingnya peran sekolah dalam memetakan kondisi sosial dan ekonomi peserta didik agar bantuan pendidikan dapat diberikan secara tepat sasaran.
“Sekolah harus mengenal latar belakang murid-muridnya dan memastikan setiap anak mendapatkan kebutuhan pendidikan yang layak,” lanjutnya.
Selain aspek pendidikan, Puan juga menyoroti pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental dan psikologis anak di lingkungan sekolah. Ia menilai kasus di Ngada menjadi bukti bahwa tekanan psikologis dapat berdampak fatal bagi anak.
“Kasus ini menunjukkan betapa kondisi psikologis anak sangat memengaruhi karakter dan keputusan mereka. Kesehatan mental anak harus menjadi perhatian serius,” ujar mantan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan itu.
Baca Juga: Ketika Jusuf Kalla Berbicara Cara Menempah Diri Menjadi Pemimpin Andal
Puan berharap tragedi ini menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendidikan nasional agar lebih ramah anak dan berpihak pada kondisi psikologis peserta didik.
“Ini harus menjadi titik balik untuk mengevaluasi sistem pendidikan yang mampu menjaga kesehatan mental dan psikologi anak secara menyeluruh,” jelasnya.
Ia juga mendorong penguatan isu kesehatan mental di sekolah serta peningkatan kepedulian sosial terhadap siswa dari keluarga rentan.
“Sekolah harus menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi anak. Pendekatan personal serta perhatian terhadap kondisi ekonomi siswa sangat penting,” katanya.
Lebih lanjut, Puan meminta pemerintah memperkuat jangkauan program bantuan sosial, terutama di daerah. Menurutnya, tragedi di Ngada tidak bisa dilepaskan dari akar persoalan kemiskinan.
“Kita harus melihat kasus ini lebih dalam. Akar masalahnya adalah kemiskinan, dan negara wajib hadir untuk mengatasinya,” tegas Puan.
Ia menekankan perlunya sinergi antara kebijakan pendidikan dan program bantuan sosial pemerintah agar persoalan mendasar dapat ditangani secara komprehensif.
“Program pemerintah harus diarahkan untuk mengatasi persoalan kemiskinan agar kejadian serupa tidak terulang. Jangan sampai ada lagi anak Indonesia kehilangan nyawa hanya karena merasa tertekan tidak mampu membeli buku dan pulpen,” pungkas Puan.