Lebih lanjut, dr. Nadhira menyarankan masyarakat membiasakan diri membaca label komposisi sebelum membeli bumbu dapur. Langkah sederhana ini dapat membantu konsumen mengetahui bahan-bahan yang terkandung dalam produk serta membuat pilihan yang lebih sesuai dengan kebutuhan.

“Aku sendiri punya kebiasaan kalau beli bumbu dapur harus lihat dulu kemasan belakangnya, lalu lihat komposisinya, dan kira-kira bahan apa aja yang dipakai,” tuturnya.

Ia juga menyoroti penggunaan kaldu sebagai salah satu produk yang perlu diperhatikan. Konsumen disarankan tidak hanya terpaku pada rasa atau klaim yang tercantum di bagian depan kemasan, tetapi juga memeriksa daftar bahan dan informasi nilai gizi.

Menurut dr. Nadhira, masyarakat dapat mempertimbangkan bumbu yang mengandalkan rasa gurih dari bahan pangan aslinya. Dengan begitu, konsumen bisa lebih memahami apa yang digunakan dalam masakan sehari-hari dan mengatur konsumsi bahan tambahan sesuai kebutuhan.

“Yang perlu di-highlight, coba perhatiin apakah kaldu yang kamu pakai memang tanpa gula buatan, tanpa MSG, tanpa pengawet, perasa, pewarna buatan. Jadi, selalu utamakan bumbu itu gurihnya yang memang dari bahan aslinya,” katanya.

Meski demikian, keberadaan MSG atau bahan tambahan pangan tertentu tidak otomatis membuat suatu produk berbahaya atau menjadikannya penyebab kanker.

Dikatakan dr. Nadhira, penilaian terhadap makanan ultraproses perlu mempertimbangkan tingkat pemrosesan, keseluruhan komposisi produk, pola konsumsi, serta bukti ilmiah yang tersedia. Membaca label tetap menjadi kebiasaan penting agar konsumen dapat membuat keputusan berdasarkan informasi, bukan sekadar klaim pemasaran.

Kemudian, dr. Nadhira pun mengajak masyarakat memulai kebiasaan tersebut dari hal sederhana yang kerap luput dari perhatian, yakni memeriksa bumbu dapur di rumah.

“Coba deh mulai hari ini, lihat bumbu dapur kamu, lihat kemasannya, dan baca labelnya,” tutupnya.

Baca Juga: Bulan Peduli Kanker Payudara: Ini 5 Tanda di Ketiak yang Sering Diabaikan Wanita