Gaya hidup konsumtif kerap menjadi tantangan di tengah maraknya promo dan diskon yang terus bermunculan. Tanpa disadari, banyak orang membeli barang bukan karena kebutuhan, melainkan dorongan sesaat. Kondisi ini mendorong munculnya tren mindful living, yakni gaya hidup yang menekankan kesadaran dalam setiap keputusan konsumsi.

Financial Planner Mike Rini menjelaskan bahwa mindful living pada dasarnya adalah hidup yang terarah, terencana, dan terkendali, termasuk dalam mengelola keuangan sehari-hari.

“Sering kali kita membeli bukan karena butuh, tapi karena takut ketinggalan promo. Padahal promo itu akan selalu ada,” ujarnya dalam sebuah diskusi pada Rabu (29/04/2026).

Baca Juga: Tips Finansial untuk Perintis dan Pewaris, Begini Strategi yang Tepat Menurut Financial Planner

Menurutnya, kebiasaan konsumsi yang lebih sadar sebaiknya mulai dibangun dari lingkungan keluarga. Orang tua memiliki peran penting dalam membentuk pola pikir anak terhadap uang dan konsumsi sejak dini.

Hal ini bisa dimulai dari langkah sederhana, seperti membatasi uang jajan, mengajarkan anak menghabiskan makanan, hingga melibatkan mereka dalam diskusi keuangan. Dengan cara ini, anak belajar memahami nilai uang sekaligus mengontrol keinginan.

Mike menekankan, pendekatan yang dilakukan orang tua tidak perlu bersifat melarang atau menghakimi. Sebaliknya, anak perlu diberikan pilihan beserta konsekuensinya agar terbiasa berpikir sebelum mengambil keputusan.

Baca Juga: Survei: Tanggung Jawab Keluarga Tekan Stabilitas Finansial Perempuan Indonesia

Selain itu, kebiasaan kecil sehari-hari juga berperan besar dalam membentuk kondisi keuangan jangka panjang. Pengeluaran yang terlihat sepele, seperti membeli kopi atau camilan, jika dilakukan terus-menerus dapat berdampak signifikan.

Antara Kebutuhan dan Keinginan

Salah satu kunci dalam menerapkan mindful living adalah kemampuan membedakan antara kebutuhan (needs) dan keinginan (wants).

Mike menjelaskan bahwa perbedaan keduanya sering kali tipis. Misalnya, seseorang memang membutuhkan pakaian, namun memilih produk yang lebih mahal karena tren atau gengsi. Dalam kondisi tersebut, keputusan sudah bergeser dari kebutuhan menjadi keinginan.

Baca Juga: Realita Finansial di Balik Pernikahan yang Sering Tak Terlihat

Karena itu, penting untuk mempertimbangkan fungsi, prioritas, serta kemampuan finansial sebelum membeli sesuatu.

Euforia Belanja dan Cara Mengendalikannya

Perilaku belanja impulsif juga sering muncul pada momen tertentu, seperti saat pindah rumah atau menjelang hari raya. Euforia kerap mendorong seseorang membeli berbagai barang sekaligus demi memenuhi keinginan emosional.

Padahal, tidak semua kebutuhan harus dipenuhi dalam waktu bersamaan. Kebutuhan dasar sebaiknya menjadi prioritas, sementara hal-hal pelengkap bisa dilakukan secara bertahap.

Mike menyarankan agar masyarakat mulai membuat perencanaan belanja yang jelas, serta menentukan pola belanja agar pengeluaran lebih terkontrol.

Baca Juga: Begini Cara Gen Z dan Milenial Kelola Tekanan Finansial Jelang Lebaran

“Tahan dulu keinginan untuk membeli. Tidak ada promo yang benar-benar terakhir,” ujarnya.

Peran Industri dalam Konsumsi Bijak

Perubahan perilaku konsumen juga mendorong industri untuk beradaptasi. Head of PR Kino Indonesia Arviane D.B menyebut bahwa konsumen saat ini semakin mencari produk yang praktis dan relevan dengan kebutuhan.

“Kami melihat kebutuhan konsumen berubah sangat cepat. Karena itu, inovasi menjadi kunci agar tetap relevan,” jelasnya.

Salah satu bentuk inovasi tersebut adalah menghadirkan kemasan yang lebih praktis, termasuk ukuran yang lebih kecil atau kemasan khusus untuk momen tertentu. Langkah ini diharapkan dapat membantu konsumen mengelola konsumsi secara lebih efisien.

Pada akhirnya, mindful living bukan berarti berhenti berbelanja, melainkan memastikan setiap pengeluaran dilakukan secara sadar dan memiliki tujuan yang jelas.

Kebiasaan ini tidak terbentuk secara instan, tetapi melalui langkah kecil yang konsisten—mulai dari rumah, dari keluarga, hingga dari keputusan sehari-hari.

Dengan pendekatan yang tepat, mindful living tidak hanya membantu menjaga keuangan tetap sehat, tetapi juga menciptakan kualitas hidup yang lebih seimbang.