dr. Samuel menjelaskan, mekanisme psikologis dalam fenomena tersebut memiliki sejumlah kemiripan dengan perilaku adiktif lainnya, termasuk perjudian.
Kesamaannya antara lain terletak pada adanya uncertain reward atau sistem hadiah yang hasilnya tidak dapat dipastikan, aktivasi jalur dopamin, serta dorongan untuk mengulangi perilaku demi mendapatkan hasil yang diharapkan.
“Meskipun tidak identik secara klinis dengan judi, pola ini berada dalam spektrum perilaku adiktif yang perlu diwaspadai,” katanya.
Dampaknya juga tidak hanya berkaitan dengan kondisi psikologis. Dalam perspektif kesehatan dan anti-aging, stres yang berlangsung dalam jangka panjang dapat meningkatkan kadar hormon kortisol.
Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan berbagai proses dalam tubuh, termasuk inflamasi dan gangguan metabolik, yang pada akhirnya dapat memengaruhi kesehatan dalam jangka panjang.
Karena itu, dr. Samuel menyarankan masyarakat untuk tidak hanya melihat blind box sebagai tren atau hiburan, tetapi juga memahami mekanisme psikologis yang membuat aktivitas tersebut terasa menyenangkan dan mendorong pembelian berulang.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah menerapkan mindful buying dengan menetapkan batas anggaran serta frekuensi pembelian. Literasi finansial dan kemampuan mengendalikan impuls juga dinilai penting, terutama bagi remaja yang mungkin lebih mudah terdorong oleh tren dan keinginan untuk mengoleksi karakter tertentu.
dr. Samuel menambahkan, peran orang tua pun menjadi penting dalam membantu anak dan remaja membangun pola konsumsi yang sehat.
Pengawasan bukan hanya soal melarang pembelian, tetapi juga membantu mereka memahami alasan di balik keinginan membeli dan membedakan antara kebutuhan, hiburan, serta dorongan impulsif.
Jika kebiasaan membeli mulai bersifat kompulsif, sulit dikendalikan, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau menyebabkan masalah keuangan maupun psikologis, dr. Samuel menyarankan agar individu tidak ragu mencari bantuan profesional dengan berkonsultasi kepada psikolog atau psikiater.
“Blind box tidak sepenuhnya negatif jika dilakukan secara sadar dan terkontrol. Namun tanpa regulasi diri yang baik, terdapat potensi dampak terhadap kesehatan mental dan secara tidak langsung terhadap proses penuaan karena eratnya hubungan antara stres, hormon, dan kesehatan jangka panjang,” tutupnya.
Baca Juga: Tren Fiber Maxxing Ramai di Media Sosial, Berapa Banyak Serat yang Dibutuhkan Tubuh? Ini Kata Pakar