Seorang anak mungkin tampak sehat dan aktif setiap hari. Ia makan dengan baik, berangkat ke sekolah, bermain bersama teman-temannya, dan tidak menunjukkan keluhan yang berarti.
Namun, di balik kondisi yang terlihat normal tersebut, gangguan kesehatan serius bisa saja berkembang secara diam-diam, termasuk penyakit hati.
Inilah yang menjadi tantangan utama dalam mendeteksi penyakit hati pada anak. Berbeda dengan beberapa penyakit lain yang menunjukkan gejala jelas sejak awal, gangguan hati sering berkembang tanpa tanda-tanda yang mencolok.
Akibatnya, banyak kasus baru diketahui ketika kondisi sudah memasuki tahap yang lebih lanjut sehingga peluang untuk melakukan intervensi dini menjadi lebih terbatas.
Masalah ini menjadi perhatian global. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa jutaan anak di dunia berisiko memasuki usia dewasa dengan Metabolic Dysfunction-Associated Steatotic Liver Disease (MASLD), atau penyakit hati berlemak yang berkaitan dengan gangguan metabolik. Jika tidak ditangani sejak dini, kondisi ini dapat meningkatkan risiko sirosis hingga kanker hati di kemudian hari.
Menurut Dr. Kavitha Sampathkumar, Konsultan Senior Rumah Sakit MGM Malar, Chennai, banyak orang tua belum menyadari bahwa penyakit hati pada anak jarang muncul dengan gejala yang dramatis.
Karena itu, kewaspadaan terhadap tanda-tanda kecil yang sering dianggap sepele menjadi kunci untuk mendeteksi masalah hati sejak dini.
Dan, dikutip dari Times of India, Minggu (21/6/2026), berikut tanda-tanda awal penyakit hati pada anak yang sering dianggap sepele, padahal bisa menjadi sinyal penting adanya gangguan kesehatan.
1. Warna Tinja Pucat dan Urine Gelap
Pada bayi, warna tinja merupakan indikator penting kesehatan hati. Jika feses tampak pucat, putih keabu-abuan, atau berwarna seperti dempul, orang tua perlu segera membawa anak ke dokter.
Kondisi ini bisa menjadi tanda atresia bilier, yaitu gangguan serius ketika saluran empedu tersumbat atau tidak terbentuk dengan baik sejak lahir.
Baca Juga: Cara Mengenali Gangguan Pencernaan pada Anak Menurut Dokter Spesialis Anak
2. Mudah Lelah dan Lesu
Anak yang sering terlihat lelah, kurang berenergi, atau tidak bersemangat menjalani aktivitas sehari-hari sebaiknya tidak selalu dianggap sebagai akibat jadwal sekolah yang padat atau fase pertumbuhan.
Kelelahan yang berlangsung terus-menerus dapat menjadi tanda awal adanya gangguan fungsi hati.
3. Nafsu Makan Menurun
Penurunan nafsu makan yang berlangsung lama, terutama jika disertai berat badan yang sulit naik atau pertumbuhan yang melambat, perlu mendapat perhatian lebih.
Masalah hati dapat memengaruhi metabolisme tubuh sehingga menghambat pertumbuhan anak.
4. Perut Terasa Penuh atau Kembung
Keluhan seperti perut terasa penuh, kembung, tidak nyaman, atau terasa berat sering dianggap sebagai gangguan pencernaan biasa. Namun dalam beberapa kasus, kondisi ini juga dapat berkaitan dengan gangguan hati.
5. Kulit dan Mata Menguning
Penyakit kuning atau jaundice merupakan salah satu tanda paling jelas adanya gangguan fungsi hati.
Jika bagian putih mata atau kulit anak mulai tampak kekuningan, pemeriksaan medis perlu segera dilakukan.
6. Mudah Memar dan Pendarahan Sulit Berhenti
Hati berperan penting dalam memproduksi faktor pembekuan darah. Ketika fungsi hati terganggu, tubuh dapat lebih mudah mengalami memar dan pendarahan membutuhkan waktu lebih lama untuk berhenti.
7. Gatal Tanpa Penyebab Jelas
Gatal pada kulit yang muncul terus-menerus tanpa adanya alergi atau penyakit kulit tertentu juga dapat menjadi tanda adanya gangguan hati.
8. Pembengkakan pada Kaki
Meski jarang diperhatikan, pembengkakan pada kaki juga bisa menjadi salah satu gejala gangguan hati yang perlu dievaluasi lebih lanjut.
Langkah Pencegahan yang Bisa Dilakukan Orang Tua
Nah Growthmates, Dr. Sampathkumar menekankan bahwa pencegahan penyakit hati pada anak sebenarnya dapat dimulai dari kebiasaan sehari-hari.
Pola makan seimbang dan aktivitas fisik yang rutin merupakan langkah penting untuk mencegah penyakit hati yang berkaitan dengan obesitas. Selain itu, menjaga kebersihan makanan dan minuman dapat mengurangi risiko infeksi hepatitis A yang menular melalui makanan atau air yang terkontaminasi.
Vaksinasi hepatitis B juga tidak boleh dilewatkan karena terbukti efektif melindungi anak dari salah satu penyebab utama penyakit hati kronis.
Orang tua juga perlu berhati-hati dalam memberikan obat kepada anak. Penggunaan antibiotik maupun obat bebas dalam jangka panjang tanpa pengawasan dokter dapat meningkatkan risiko kerusakan hati.
Pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi semakin penting apabila terdapat riwayat penyakit hati atau hepatitis dalam keluarga. Anak yang mengalami obesitas juga perlu mendapatkan pemantauan medis secara rutin dan tidak dianggap akan membaik dengan sendirinya seiring bertambahnya usia.
Baca Juga: Cacar Api Bukan Sekadar Penyakit Kulit, Ini Dampaknya pada Kualitas Hidup