Lebih jauh, dr. Bobby pun mengingatkan bahwa kelainan struktur jantung tertentu dapat meningkatkan risiko gangguan serius ketika seseorang melakukan olahraga intensitas tinggi.

Salah satu contohnya adalah kondisi ketika otot jantung menebal secara abnormal, yang pada sebagian orang dapat berkaitan dengan risiko gangguan irama jantung berbahaya.

Pemeriksaan keempat adalah tes treadmill, yaitu pemeriksaan untuk mengevaluasi respons jantung ketika tubuh melakukan aktivitas fisik dengan beban yang meningkat secara bertahap. Selama pemeriksaan, tenaga medis memantau sejumlah indikator, termasuk aktivitas listrik jantung, tekanan darah, dan gejala yang muncul.

“Empat, tes treadmill. Ini merupakan tes yang berfungsi untuk mengetahui tingkat kebugaran jantung kalian dan juga untuk screening ada atau tidaknya penyempitan pembuluh darah penyebab serangan jantung pada saat berlari,” kata dr. Bobby.

Tes treadmill dapat membantu mendeteksi tanda-tanda gangguan aliran darah ke otot jantung pada kondisi tertentu. Meski demikian, pemeriksaan ini tidak selalu diperlukan bagi setiap orang yang berolahraga. Dokter akan mempertimbangkan usia, faktor risiko, gejala, serta tujuan pemeriksaan sebelum merekomendasikannya.

Pemeriksaan kelima yang disebut dr. Bobby adalah Cardiopulmonary Exercise Test (CPET), yakni tes latihan yang mengevaluasi respons sistem kardiovaskular dan pernapasan selama aktivitas fisik. Pemeriksaan ini dilakukan dengan pemantauan medis dan pengukuran konsumsi oksigen serta produksi karbon dioksida untuk menilai kemampuan tubuh menggunakan oksigen saat berolahraga.

“Yang terbaik dilakukan CPET atau Cardiopulmonary Exercise Test. Ini yang lebih profesional lagi seperti treadmill. Tapi kita juga bisa mengetahui VO2 max kita, tingkat kebugaran, dan juga sekaligus screening penyakit jantung,” tutur dr. Bobby.

VO2 max merupakan ukuran kapasitas maksimal tubuh dalam menggunakan oksigen selama aktivitas fisik. Informasi ini dapat membantu menilai kebugaran kardiorespirasi sekaligus menjadi pertimbangan dalam menyusun program latihan yang sesuai dengan kemampuan seseorang.

Meski begitu, CPET bukan pemeriksaan wajib bagi semua pelari atau pesepeda. Kebutuhannya ditentukan berdasarkan kondisi kesehatan dan tujuan evaluasi, sementara pemeriksaan lain dapat lebih sesuai untuk orang dengan faktor risiko atau keluhan tertentu.

Terakhir, dr. Bobby menegaskan bahwa pemeriksaan kesehatan sebelum berolahraga penting untuk membantu mengidentifikasi risiko dan menentukan jenis serta intensitas aktivitas fisik yang aman. Hal ini terutama perlu diperhatikan oleh orang yang berencana mengikuti lomba lari, bersepeda jarak jauh, atau latihan dengan intensitas tinggi.

“Karena risiko terbesar dari sebuah olahraga dengan intensitas tinggi adalah kematian atau henti jantung mendadak. Tetap jaga kesehatan dan keselamatan,” pungkasnya.

Baca Juga: Dokter Ungkap Bahaya Sleep Apnea, Sering Mendengkur Ternyata Bisa Tingkatkan Risiko Serangan Jantung!