Anggapan mayoritas pendukung setia Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) yang memandang Presiden Prabowo Subianto sebagai penerus Jokowi dibantah habis -habisan oleh Menurut Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia, Yunarto Wijaya.
Menurutnya Jokowi dan Prabowo sama sekali tidak punya relasi politik yang kuat, keduanya punya pandangan politik yang berbeda pula, cara mereka membangun bangsa juga jelas berbeda, untuk itu dia menilai anggapan bahwa Prabowo adalah penerus Jokowi merupakan analisa politik yang terlampau dangkal.
Yunarto menegaskan, salah satu fakta bahwa Prabowo bukan penerus Jokowi dapat dilihat dari prioritas anggaran untuk berbagai program saat ini dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2025/2026.
Yunarto menilai pilihan anggaran tersebut mencerminkan agenda pemerintahan yang berangkat dari pemikiran Prabowo sendiri, bukan semata-mata meneruskan seluruh kebijakan Jokowi.
"Dan kita bisa lihat, yang enggak bisa kita bantah, dari anggaran prioritas, Mas, apa yang jadi skala prioritas dari APBN 2025, 2026. Dia menunjukkan bahwa saya adalah Prabowo. Saya bukan penerus Jokowi," kata Yunarto dalam tayangan YouTube Helmi Yahya Bicara, dikutip Jumat (23/10/2026).
Lantaran bukan menjadi penerus dari pemerintahan sebelumnya, imajinasi pendukung Jokowi akan keberlanjutan pemerintahan Jokowi di tangan Prabowo jelas tak bakal terwujud. Program-program warisan Jokowi bakal dibiarkan terbengkalai, Prabowo sibuk membangun pemerintahan yang jauh dari bayang-bayang Jokowi.
"Tapi yang menurut saya berubah adalah terutama ya segmen pemilih Jokowi yang merasa continuity akan terbangun seperti apa yang dijalankan oleh Jokowi ketika Prabowo terpilih. Karena imajinasinya adalah pemerintahan Prabowo-Jokowi," katanya.
Yunarto menilai kedua tokoh memiliki cara pandang berbeda tentang Indonesia. Perbedaan itulah yang, menurut dia, ikut menjelaskan keterkejutan sebagian masyarakat terhadap kebijakan pemerintahan Prabowo.
"Pada dasarnya dua orang ini, saya selalu mengatakan, dua makhluk yang punya imajinasi berbeda tentang Indonesia," ujarnya.
Ia menambahkan, kelompok yang paling terkejut justru mereka yang sebelumnya mengharapkan Prabowo meneruskan pola kebijakan Jokowi.
Baca Juga: Hambalang-Solo Pecah Kongsi, Jimly Asshiddiqie Langsung Blak-blakan Soal Hubungan Prabowo-Jokowi
"Itu yang menyebabkan orang kaget. Orang yang paling kaget terutama dengan kebijakan dua tahun ini menurut saya adalah pecinta Jokowi yang tadinya merasa Prabowo akan seperti Jokowi atau akan membuat keberlanjutan seperti yang dimaui Jokowi atau seperti yang dimaui oleh Jokowi. Dan tidak terjadi sekarang," pungkasnya.