Salah satunya adalah peran ganda yang dijalankan perempuan maupun sisi emosional yang terkadang dianggap sebagai kelemahan.
Dipaparkan Ria, karakteristik tersebut justru dapat dilihat dari perspektif yang lebih positif dan menjadi bagian dari kekuatan perempuan.
Menurutnya, media memiliki kesempatan untuk menghadirkan narasi yang tidak lagi menempatkan pengalaman perempuan sebagai sesuatu yang identik dengan keterbatasan.
“Lalu mungkin bisa juga mengangkat bahwa peran ganda perempuan itu adalah dan sisi emosi perempuan itu adalah sebuah kelebihan, bukan sesuatu yang negatif,” tuturnya.
Lebih lanjut, Ria menekankan pentingnya kehati-hatian media dalam mengangkat isu yang berkaitan dengan gender.
Ria bilang media perlu menghindari penguatan stigma melalui pemberitaan yang justru memperbesar atau mengulang stereotip secara berlebihan.
“Rasanya tidak membedakan gender ketika kita mengangkat seseorang dan mengangkat satu isu yang menjadi sebuah stigma-stigma itu sebaiknya memang diusahakan untuk tidak diangkat secara berlebihan,” tandas Ria.
Baca Juga: Editor in Chief Harper's Bazaar Indonesia Ungkap Tantangan Besar Industri Media di Era Digital