Founder Rumah Perubahan itu melanjutkan, tekanan akibat kepadatan dapat membuat penumpang lebih mudah terdorong, menyikut, atau berebut ruang. Perubahan perilaku tersebut, menurutnya, tidak hanya dialami perempuan, tetapi juga laki-laki.
“Menjadi agresif mood. Orang yang penting survive lalu kemudian mulai bermainlah itu. Siku, dorong, agresif. Kemudian tiba-tiba kita bisa kehilangan kesadaran kita. Kesadaran sebagai makhluk sosial. Itu terjadi pada semuanya, bukan hanya pada perempuan. Laki-laki juga bisa begitu,” ungkapnya.
Karena itu, Rhenald menilai, penyedia layanan kereta api perlu memastikan kapasitas angkutan sebanding dengan kebutuhan penumpang. Penambahan kapasitas dan pengaturan distribusi penumpang dinilai penting agar pengguna transportasi publik dapat bepergian dengan lebih nyaman, terutama pada jam berangkat dan pulang kerja.
Ia juga menyinggung penerapan gerbong khusus perempuan pada layanan kereta komuter di Indonesia. Menurut pengamatannya, sebagian penumpang perempuan tetap memilih gerbong campuran meskipun gerbong khusus perempuan tersedia.
Rhenald menduga, pilihan tersebut berkaitan dengan kebutuhan praktis penumpang ketika menghadapi kepadatan. Pada jam sibuk, sebagian orang lebih mengutamakan kesempatan untuk masuk ke kereta daripada memilih gerbong tertentu.
“Kalau jam sibuk itu orang sudah berpikir yang penting saya bisa masuk,” ujarnya.
Lebih jauh, Rhenald juga mengingatkan bahwa dinamika antar penumpang tidak selalu sederhana, termasuk ketika mereka berada dalam gerbong yang sama. Setiap orang memiliki kebutuhan berbeda, mulai dari pergi bekerja hingga mengantar anak ke sekolah. Dalam situasi padat, kepentingan tersebut dapat saling berbenturan dan memengaruhi kenyamanan bersama.
Di sisi lain, Rhenald menegaskan bahwa persoalan pelecehan seksual tidak boleh diabaikan. Ia mendorong penindakan yang lebih tegas terhadap orang-orang yang melakukan tindakan tersebut agar transportasi publik menjadi ruang yang aman bagi seluruh pengguna.
“Kenapa dibiarin ya? Makin hari makin banyak. Tentu kereta api tidak membiarkan. Tetapi mungkin kita harus lebih berani menghukum mereka yang melakukan perbuatan-perbuatan seperti itu. Ini harus dihentikan,” pungkasnya.
Baca Juga: Kasus Juicy Luicy Ramai Disorot, Ini Pandangan Rhenald Kasali soal Profesionalisme