Growthmates, kehadiran kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, termasuk di kalangan anak dan remaja. Selain dimanfaatkan untuk mencari informasi dan membantu berbagai aktivitas, AI belakangan juga menjadi tempat bagi sebagian remaja untuk bercerita dan mencurahkan perasaan.

Fenomena ini tentu menjadi perhatian bagi orang tua. Di satu sisi, AI dapat menjadi teknologi yang membantu. Namun di sisi lain, kedekatan anak dengan AI sebagai tempat mencurahkan persoalan juga perlu disikapi dengan bijak.

Psikolog Klinis & Keluarga sekaligus Co-Founder Sekolah bnmontessori dan Co-Founder @goodenoughparents.id, Pritta Tyas Mangestuti, M.Psi, mengingatkan bahwa kehadiran AI tidak dapat dihindari di tengah perkembangan teknologi.

Menurutnya, seperti teknologi lainnya, AI dapat memberikan manfaat sekaligus memiliki risiko jika digunakan tanpa pendampingan yang tepat.

Ketika mengetahui anak lebih nyaman bercerita kepada AI, Pritta menilai, hal pertama yang perlu dilakukan orang tua adalah memahami kebutuhan dasar anak untuk merasa dicintai dan diterima apa adanya.

"Yang pertama, menyadari betul bahwa basic need anak itu adalah dicintai unconditional, dicintai apa adanya," tutur Pritta, sebagaimana Olenka kutip dari laman Instagram @motherandbeyond_id, Kamis (8/10/2026).

Pritta melanjutkan, ketika anak mulai bercerita tentang sesuatu yang mungkin membuat orang tua terkejut, khawatir, atau bahkan tidak setuju, orang tua perlu menahan reaksi spontan. Respons yang terlalu cepat menghakimi atau memarahi justru dapat membuat anak enggan kembali bercerita.

"Jadi, ketika anak bercerita, sesuatu yang menurut kita mungkin harus saling napas, buang napas, stay cool, meskipun di dalam hati kita berkecamuk. Tapi jangan mengeluarkan komentar-komentar yang langsung membuat anak merasa dihakimi," katanya.

Pritta juga menekankan pentingnya bagi orang tua untuk memahami fase perkembangan yang sedang dilalui anak. Memasuki usia remaja, anak mengalami berbagai perubahan, baik secara fisik maupun emosional, yang dapat memengaruhi cara mereka melihat diri sendiri dan lingkungan sekitar.

Orang tua, kata Pritta, perlu membekali diri dengan pengetahuan mengenai perkembangan anak, terutama ketika mereka mulai memasuki masa pubertas.

"Orang tua tuh perlu tahu, anak saya nih, misalnya udah masuk usia yang paling maju, apa yang sedang terjadi dalam dirinya. Nah, ini perlu belajar, bisa dari mana saja," ujarnya.

Ia mencontohkan, ketika anak memasuki usia SMP atau sekitar 13 tahun ke atas, mereka mulai menghadapi berbagai gejolak khas masa pubertas.

Menurutnya, anak bisa menjadi lebih sensitif terhadap penilaian sosial, merasa dikucilkan, tidak percaya diri dengan kemampuan yang dimiliki, hingga mulai mengalami ketertarikan terhadap lawan jenis.

"Orang tua perlu tahu nih, kalau anak saya udah masuk SMP, 13 tahun ke atas, dia masuk puberti, gejolak emosi apa yang timbul? Sensitive terhadap penilaian sosial, terus merasa dikucilkan mungkin, kalau ada temennya yang nggak di ini, atau merasa insecure dengan kemampuannya, terus udah mulai suka-sukaan, dan lain sebagainya," kata Pritta.

Pemahaman tersebut penting agar orang tua tidak buru-buru menganggap perubahan perilaku anak sebagai sesuatu yang negatif. Sebaliknya, orang tua dapat melihatnya sebagai bagian dari proses tumbuh kembang yang perlu didampingi.

Baca Juga: Bukan Sekadar Percaya Diri, Studi Ungkap Kunci Kesejahteraan Psikologis Anak, Apa Itu?