Kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri dinilai menjadi salah satu kunci untuk mendorong kemajuan perfilman Indonesia. Sinergi tersebut tidak hanya membuka ruang bagi mahasiswa dan alumni untuk terjun langsung ke dunia profesional, tetapi juga memastikan pendidikan tinggi mampu menghasilkan karya yang berdampak bagi masyarakat dan industri kreatif.

Rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Prof. Dr. Ir. M. Syamsul Maarif, M.Eng., Dipl., Ing., DEA, menilai, produksi film Kembar Tak Sama menjadi momentum penting untuk memperkuat hubungan antara dunia pendidikan dan industri perfilman. Menurut dia, kolaborasi tersebut dapat menjadi pijakan bagi terciptanya kerja sama serupa pada masa mendatang.

“Ini suatu hal yang luar biasa karena kita ingin menyatukan antara dunia pendidikan dan dunia industri. Pendidikan dan industri itu harus jadi satu memang di banyak negara. Tempat saya sekolah dulu, industri dan pendidikan itu selalu jadi satu, jadi tidak pernah terpisah,” tutur Syamsul, saat Press Conference & Syukuran Film Kembar Tak Sama yang digelar di Auditorium Gedung Rektorat IKJ, Jakarta, Senin (26/10/2026).

Syamsul pun melanjutkan, keterhubungan antara kampus dan industri memungkinkan hasil pendidikan tinggi dimanfaatkan secara langsung oleh dunia profesional. Dengan demikian, kata dia, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan di ruang kelas, tetapi juga kesempatan untuk mengembangkan keterampilan, memahami standar industri, dan terlibat dalam proses produksi karya nyata.

Syamsul menyebut, kerja sama tersebut memiliki manfaat yang mencakup tiga fungsi utama perguruan tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui kolaborasi dengan industri, dosen, mahasiswa, serta tenaga kependidikan dapat terlibat dalam kegiatan yang mempertemukan kompetensi akademik dengan kebutuhan praktis di lapangan.

“Yang pertama dalam hal pendidikan, pendidikan menjadi lebih berdampak. Yang kedua bisa juga dalam hal penelitian. Ini bisa dilakukan juga oleh para dosen. Jadi, dosen bisa juga melakukan penelitian-penelitian terkait ini. Dan, yang ketiga pengabdian masyarakat. Ini tiga fungsi utama dari pendidikan tinggi,” tuturnya.

Ia pun berharap, keterlibatan insan akademik dalam produksi film dapat memperkuat kapasitas kreator dan sineas yang dilahirkan perguruan tinggi seni. Pada saat yang sama, industri juga memperoleh kesempatan untuk bekerja sama dengan talenta yang memiliki bekal pengetahuan, kreativitas, dan kemampuan profesional.

Bagi Syamsul, Kembar Tak Sama bukan sekadar proyek produksi film, melainkan langkah awal untuk membangun pola kemitraan yang lebih luas antara lembaga pendidikan dan industri perfilman.

Ia berharap, kerja sama tersebut dapat melahirkan standar baru bagi mahasiswa dan alumni yang ingin berkarier di industri kreatif.

“Dengan tonggak Kembar Tak Sama inilah, diharapkan nanti akan tercipta kerja sama-kerja sama yang lain,” katanya.

Lebih lanjut, Syamsul menegaskan, salah satu hal penting dari kolaborasi tersebut adalah terciptanya standar kompetensi yang memungkinkan lulusan perguruan tinggi langsung beradaptasi dengan kebutuhan industri.

Menurut dia, kampus dan pelaku industri perlu memiliki pemahaman yang sejalan mengenai kualitas karya maupun profesionalisme dalam proses produksinya.

“Bagi IKJ, yang penting standar itu adalah standar yang bisa langsung terjun ke dunia industri. Dan, industrinya juga punya standar,” imbuhnya.

Baca Juga: Film 'Kembar Tak Sama' Mulai Diproduksi, Angkat Krisis Identitas Lewat Komedi Keluarga

Dalam pandangannya, keberhasilan sebuah film tidak cukup diukur dari selesainya proses produksi. Film juga perlu memiliki kekuatan cerita, daya tarik visual, serta kemampuan menjangkau dan membangun keterlibatan penonton.

Karena itu, ia berharap, Kembar Tak Sama mampu menjadi karya yang tidak hanya bernilai artistik, tetapi juga memiliki daya saing di pasar.

“Karya yang sederhana dapat menjadi luar biasa apabila dikerjakan dengan hati, kreativitas, dan profesionalisme,” kata Syamsul.

Ia juga menekankan pentingnya kekompakan seluruh pihak yang terlibat dalam produksi film, mulai dari sutradara, produser, pemain, hingga kru.

Menurut Syamsul, kerja sama yang baik membutuhkan disiplin, kerja keras, strategi yang tepat, komitmen, serta rasa saling percaya di antara seluruh anggota tim.

“Keberhasilan harus diperjuangkan melalui disiplin, kerja keras, kekompakan, strategi yang tepat, dan komitmen. Kunci kekompakan itu menjadi kunci keberhasilan. Tanpa kekompakan, kita tidak bisa menghasilkan situasi yang baik,” tuturnya.

Syamsul menambahkan, setiap unsur dalam proses produksi perlu bekerja sebagai satu kesatuan ekosistem. Sutradara, produser, pemain, dan kru harus saling mendukung serta menghargai peran masing-masing agar dapat menghasilkan karya terbaik.

“Film yang hebat lahir bukan hanya dari orang-orang berbakat, melainkan dari mereka yang memiliki visi, integritas, dan semangat yang sama,” ujarnya.

Ia pun berharap, produksi Kembar Tak Sama berjalan lancar dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan perfilman nasional.

Lebih jauh, ia ingin kolaborasi tersebut menjadi contoh bahwa perguruan tinggi seni dapat berperan aktif dalam menghasilkan karya profesional sekaligus memperkuat ekosistem seni dan budaya Indonesia.

Syamsul pun menyampaikan harapan agar seluruh pihak yang terlibat dapat menjaga semangat kebersamaan selama proses produksi berlangsung.

“Ceritanya boleh tentang perbedaan, tetapi semangat kita harus sama, menghasilkan yang terbaik,” pungkasnya.

Baca Juga: Endy Arfian Ungkap Tantangan Perankan Dua Karakter Sekaligus di Kembar Tak Sama