Puragraph kembali menghadirkan eksplorasi budaya Indonesia melalui koleksi terbarunya, Puragraph Vol. II | Minang: A Home You Carry With You.
Dipimpin Lead Designer Puragraph, Maritza Anjali Putri, koleksi ini mengambil inspirasi dari arsitektur, siluet, hingga bentuk atap Rumah Gadang yang ikonik sebagai elemen utama dalam rancangan busana.
Lewat koleksi ini, Puragraph tidak sekadar menerjemahkan bentuk arsitektur tradisional ke dalam busana, tetapi juga mengangkat filosofi kehidupan masyarakat Indonesia yang dikenal melalui konsep sandhang, pangan, papan, atau pakaian, pangan, dan tempat tinggal.
Konsep tersebut kemudian diterjemahkan Puragraph melalui gagasan bahwa pakaian dapat menjadi bentuk perlindungan sekaligus ruang nyaman yang selalu dibawa oleh pemakainya. Layaknya atap Rumah Gadang yang menaungi, memberi rasa nyaman, dan menyambut siapa pun yang berada di bawahnya, setiap busana dalam koleksi ini dirancang sebagai lapisan perlindungan bagi tubuh.
Lead Designer Puragraph, Maritza Anjali Putri, mengatakan, konsep tersebut menjadi fondasi utama dalam proses kreatif Puragraph Vol. II | Minang.
“Melalui Puragraph Vol. II | Minang, kami ingin menciptakan busana yang melampaui estetika visual untuk menawarkan perlindungan dan kenyamanan sejati bagi pemakainya. Terinspirasi oleh siluet Rumah Gadang yang menaungi serta esensi sandhang, pangan, papan, setiap busana dirancang agar terasa seperti ‘a home you carry with you’, sebuah rasa memiliki yang menyertai ke mana pun Anda pergi,” ungkap Maritza, saat acara fashion show Puragraph Vol. II di Grand Indonesia, Jakarta, Rabu (19/8/2026).

Maritza lantas menuturkan, inspirasi Rumah Gadang kemudian diterjemahkan secara subtil melalui siluet busana yang memiliki karakter struktural dan arsitektural.
"Puragraph menghadirkan desain basic yang bersih, namun tetap memiliki detail konstruksi yang membuat setiap pakaian terasa memiliki identitas kuat," tukasnya.
Pendekatan tersebut menjadi ciri khas Puragraph yang mencoba membawa warisan budaya ke dalam gaya berpakaian modern tanpa membuatnya terasa terlalu literal. Palet monokrom hitam dan putih digunakan untuk memperkuat kesan minimalis sekaligus membuat koleksi lebih mudah dikenakan dalam keseharian.
Selain mengedepankan desain, setiap busana dalam koleksi ini juga dibuat melalui proses handcrafted in Indonesia, memperlihatkan perpaduan antara pendekatan desain kontemporer dan keahlian kriya lokal.
Kehadiran Puragraph Vol. II | Minang juga menjadi bagian dari rangkaian perayaan Purana17: Renjana Perca, sebuah pameran yang membawa semangat pelestarian budaya sekaligus eksplorasi terhadap praktik fesyen berkelanjutan.
Baca Juga: PURANA Rayakan 17 Tahun lewat Renjana Perca, Dorong Ekonomi Sirkular dan Sustainable Fashion
Dalam rangkaian tersebut, PURANA turut memperkenalkan Purana Re, sebuah proyek yang meredefinisi konsep zero-waste luxury. Proyek ini dirancang oleh Kika Puspitasari, pendiri Kaloka, dengan memanfaatkan kembali sisa kain perca dari arsip produksi PURANA selama 2009 hingga 2025.
Alih-alih menjadi limbah, kain-kain sisa tersebut dirangkai dan diolah kembali menjadi busana statement. Setiap rancangan memiliki karakter unik karena dibuat dari kombinasi material yang berasal dari berbagai periode produksi, sehingga menghasilkan karya yang tidak dapat direplikasi secara identik.
Purana Re sekaligus mempertegas komitmen PURANA dalam mendorong ekonomi sirkular di industri fesyen. Konsep zero-waste luxury diterapkan dengan melihat kembali material yang tersisa sebagai sumber daya kreatif yang masih memiliki nilai.
Langkah tersebut sejalan dengan visi PURANA Group yang berada di bawah arahan Founder & CCO Purana Group Nonita Respati serta Co-Founder & CEO Purana Group Andarina Sumarno.
Keduanya terus mendorong pelestarian budaya Indonesia agar dapat berjalan beriringan dengan inovasi dan pendekatan kemewahan yang lebih berkelanjutan.
Sementara itu, Puragraph membawa pendekatan yang lebih minimalis dan struktural dalam menerjemahkan warisan Indonesia. Lahir dari DNA Purana yang memiliki komitmen terhadap pelestarian budaya, Puragraph hadir sebagai jenama yang mengeksplorasi warisan sejarah Indonesia melalui bentuk arsitektur.
Jika Purana dikenal merayakan budaya Nusantara melalui warna serta motif flora dan fauna, Puragraph memilih pendekatan berbeda dengan mengadaptasi siluet arsitektur dari bangunan tradisional hingga peninggalan kolonial Belanda ke dalam desain busana.
Fokus tersebut terlihat melalui rancangan kemeja dekonstruktif dengan palet warna esensial seperti hitam dan putih. Puragraph berupaya mendefinisikan kembali makna warisan sejarah melalui gaya yang modern, struktural, dan timeless, sehingga tetap relevan digunakan lintas generasi.
Untuk Puragraph Vol. II | Minang, pendekatan tersebut diwujudkan melalui busana yang tidak hanya mengedepankan estetika, tetapi juga membawa gagasan tentang kenyamanan dan rasa memiliki. Rumah Gadang tidak sekadar menjadi sumber bentuk visual, melainkan simbol tempat berlindung yang kemudian diterjemahkan menjadi sesuatu yang dapat dikenakan dan dibawa dalam keseharian.
Koleksi Puragraph Vol. II | Minang kini telah tersedia dan dapat dibeli di Purana Store, Central Department Store Level Ground, Grand Indonesia.
Sementara itu, pameran Purana17: Renjana Perca masih berlangsung hingga 23 Agustus 2026.
Pengunjung dapat mengeksplorasi berbagai instalasi multi-zona yang tersebar di sejumlah area Grand Indonesia, termasuk Main Atrium East Mall Level 1, Lobby Shinta East Mall Level Ground, serta area depan Azko East Mall Level 5.
Baca Juga: Vicenza dan PURANA Usung Sustainability Lewat Kolaborasi Seni dan Home Living